http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/issue/feed SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan 2020-08-11T00:00:00+07:00 Delipiter Lase jurnal@sttsundermann.ac.id Open Journal Systems http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/37 Problematika Pelaksanaan Pelajaran Pendidikan Agama Kristen Pada Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) Masa Pandemi COVID 19 2020-06-04T17:28:25+07:00 Karnawati karnawati@stbi.ac.id <p>Situasi pandemik covid 19 menyebabkan peserta didik belum sepenuhnya menerima pemenuhan hak dalam memperoleh pelajaran pendidikan agama. Penelitian ini secara khusus membahas tentang situasi yang dihadapi peserta didik dalam memperoleh pelajaran Pendidikan Agama Kristen di Satuan Pendidikan Kerjasama. Dimana pelajaran PAK merupakan pelajaran wajib kurikulum nasional yang harus diberikan kepada peserta didik WNI. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan menggali kejadian atau fakta yang terjadi di lapangan. Adapun metode yang digunakan adalah observasi pengamatan langsung di lapangan dimana peneliti turut menjadi obyek partisipan. Tujuan penelitian adalah mendiskripsikan pelaksanaan pelajaran PAK dan problematika yang terjadi dalam proses pembelajarannya. Hasil penelitian ini adalah ditemukannya masalah dalam proses pembelajaran. Dari total kelas yang berjumlah dua belas kelas hanya dibagi menjadi dua kelas pertemuan yaitu yaitu kelas 1 sampai 5 dengan range usia 6-11 tahun dan kelas 6 sampai 12 dengan range usia 12-18 tahun. Hal ini menyebabkan tujuan pembelajaran tidak sepenuhnya tercapai. Selain itu dalam situasi covid 19, pelajaran PAK di non-aktifkan.</p> Copyright (c) 1970 Karnawati http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/35 Membangun Komunitas Kristen Kang Mardika 2020-07-05T15:50:19+07:00 Samudra Cipta samudraeka97@gmail.com <p>Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana seorang <em>zending</em> (pengkabar Injil) dari kalangan pribumi membentuk komunitas <em>Kristen Kang Mardika </em>atau kelompok Kristen yang merdeka. Kyai Sadrcah merupakan seorang pengkabar Injil pribumi yang berhasil membaptis sekitar 20.000 jemaat selama dalam kurun 1869-1923. Aktifitas Kekristenan Kyai Sadrcah difokuskan pada kelompok masyarakat pedesaan di Jawa. Sadrach kemudian mendirikan padepokan di Karangjoso (terletak di sebelah selatan Kutoarjo, Purworejo) yang mana pada masa Kolonial Belanda merupakan bagian dari wilayah Bagalen. Dalam dogma yang diajarkan oleh Kyai Sadrach menggunakan beberapa pendekatan di antaranya unsur Islam, Hindu-Budha, dan Jawa. Unsur Islam sangat kuat pengaruhnya mengingat Sadrach memiliki latar belakang dan pemahaman dasar tentang Islam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dan metode analisis isi, dan bertujuan untuk menjelaskan kondisi awal Kekristenan di Jawa, proses kristenisasi yang dilakukan oleh Sadrach, serta gaya kepemimpinan Sadrach dalam memimpin ribuan umat yang dibinanya.</p> 2020-08-11T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Samudra Cipta http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/34 Etos Kerja Pendeta BNKP 2020-05-08T14:57:17+07:00 Otoriteit Dachi ritterdachi@sttsundermann.ac.id Delipiter Lase piterlase@sttsundermann.ac.id <p>Artikel ini merupakan artikel hasil penelitian tentang etos kerja Pendeta di gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) tahun 2017. Topik ini diteliti, mengingat BNKP sebagai organisasi gereja memiliki program umum pelayanan BNKP yang pelaksanaannya dijabarkan melalui pelayanan di aras sinodal, resort dan jemaat. Berhasilnya pelaksanaan program pelayanan umum dimaksud, sangat tergantung pada kualitas etos kerja para pelayan (Pendeta) di setiap aras. Dengan pendekatan penelitian kualitatif-desktiptif, ditemukan bahwa dari 60 orang Pendeta BNKP sebagai partisipan, memiliki kualitas etos kerja yang berbeda-beda. Sebanyak 39,26% memiliki etos kerja dengan kategori tinggi, 33,33% kategori sedang serta 27,41% kategori rendah. Data ini juga ekuivalen dengan setiap 10 (sepuluh) orang pendeta, terdapat 4 (empat) orang memiliki etos kerja dengan kategori tinggi, 3 (tiga) orang sedang dan 3 (tiga) orang rendah. Penelitian ini juga berhasil merumuskan faktor-faktor yang memengaruhi etos kerja dalam konteks pelayanan BNKP, di antaranya adalah adanya krisis panggilan dan kekaburan tanggung jawab, spiritualitas dan integritas pendeta, kepemimpinan serta perbedaan latar belakang pendidikan teologi.</p> 2020-05-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Otoriteit Dachi, Delipiter Lase http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/33 Ikatan Perkawinan sebagai Sebuah Perjanjian Menurut Kitab Maleakhi 2020-05-06T20:09:02+07:00 Evans Praise Nomleni evans.nomleni@gmail.com <p>Nabi Maleakhi adalah salah satu dari tiga nabi terakhir yang dikirim oleh Allah (432-424 SM) untuk dipersiapkan dan menyampaikan pesan-pesan kenabian pasca pembuangan di Babel. Nubuat yang disampaikannya berupa peringatan, penguatan dan beberapa bersifat eskatologis. Salah satu di antaranya adalah konsep pernikahan yang pengertiannya dipertukarkan antara pernikahan fisik laki-laki dan perempuan dengan pernikahan rohani antara Israel dan Elohim. Artikel ini mengulas konsep nabi Maleakhi tentang ikatan di dalam pernikahan. Hasilnya adalah pernikahan sebagai konsep kovenan yang sangat kuat dan tidak boleh dibatalkan bahkan melalui perceraian sekalipun oleh para Imam. Artikel ini dibuat dengan studi literatur menggunakan analisis deskriptif-analisis.</p> 2020-04-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Evans Praise Nomleni http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/31 Ketika Keadilan Bertemu Dengan Kasih 2020-05-06T20:07:33+07:00 Oinike Natalia Harefa oinike21121986@gmail.com <p>Manusia hidup di bumi ini sebagai<em> homosocious</em> yang berinteraksi secara sosial dengan sesama manusia. Untuk menjaga interaksi sosial ini, maka kebutuhan akan keadilan adalah elemen penting. Beberapa teori tentang keadilan telah dikembangkan sebagai panduan, namun mesti disadari bahwa tidak ada teori maupun cara tunggal untuk mendefinisikan keadilan yang memuaskan untuk semua. Dalam tulisan ini, penulis memilih untuk membandingkan dua pemikir teori keadilan, yakni John Rawls dengan teori kontrak sosialnya dan Reinhold Niebuhr dengan teori keadilan menurut etika Protestan. Metode yang dipergunakan penulis adalah kajian pustaka. Tulisan ini bertujuan untuk mencari titik temu kedua pemikir ini pada konsep mereka tentang keadilan dan kasih.</p> 2020-05-06T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Oinike Natalia Harefa http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/32 Makna ‘Ketetapan Tuhan’ dalam Kitab Yunus dan Implikasi dalam Pelayanan Kristiani 2020-05-06T20:09:27+07:00 Michael Johan Sulistiawan michael_johan@yahoo.com <p>Kitab Yunus adalah salah satu kitab dalam Perjanjian Lama. Kitab ini memberikan banyak ajaran teologis tentang tindakan Tuhan terhadap manusia dan secara pribadi kepada sosok Yunus. Pesan teologis dan kisah nyata nabi Yunus mengajarkan partisipasi sempurna Tuhan dan memberikan keselamatan bagi bangsa-bangsa lain. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode studi literatur dan dokumen penelitian yang berkaitan dengan penulisan judul. Metode analisis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Hasil yang ditemukan, Allah dalam Kitab Yunus adalah 1) Allah yang mengutus Yunus dengan membawa pesan peringatan, 2) Allah memberi kesempatan kepada Niniwe, dan 3) Allah mengubah hati Yunus untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Implikasi dan kesimpulan yang dapat diambil dari kitab ini, yaitu tekad Tuhan dalam kitab Yunus, menggambarkan Tuhan sebagai Tuhan Yang Mahakuasa, bahwa Ia memiliki kuasa atas alam, bahkan dalam kehidupan manusia. Kisah nabi Yunus memberi pelajaran bagi kita orang percaya untuk taat dan setia serta mengikuti panggilan Tuhan.</p> 2020-04-01T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Michael Johan Sulistiawan http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/30 Pembinaan Kepada Perempuan Tidak Menikah 2020-04-10T14:09:43+07:00 Popiani Mendrofa popimendrofa1996@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pembinaan yang dilakukan gereja kepada perempuan yang tidak menikah, secara khusus di Jemaat BNKP Hiliamaigila. Penelitian ini bertujuan: <em>Pertama, </em>Untuk mengetahui tentang perempuan yang tidak menikah secara umum, Alkitab, Perspektif&nbsp; Kristen, Konteks Nias, dan dalam Konteks Jemaat Hiliamaigila. <em>Kedua, </em>Untuk mengetahui alasa-alasan perempuan tidak menikah. <em>Ketiga, </em>Untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi perempuan yang tidak menikah. <em>&nbsp;Keempat, </em>&nbsp;Untuk menemukan solusi pembinaan yang dilakukan gereja. Dalam melakukan penelitian ini maka digunakan metode penelitian kualitatif. Dengan melalui metode ini data diperoleh dari hasil obeservasi lapangan dan wawancara yang dilakukan kepada perempuan yang tidak menikah, tokoh masyarakat (adat), keluarga perempuan yang tidak menikah, dan kepada para pelayan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan tidak menikah dikarenakan: Böwö (jujuran), masalah ekonomi, penampilan, latar belakang keluarga, tidak ada yang meminang, keinginan diri sendiri. menjadi tulang punggung keluarga. Dalam hal ini gereja masih kurang memberikan perhatiannya. Adapun solusi yang diberikan antara lain: &nbsp;<em>Pertama,</em> supaya orangtua tidak terusmenerus mengatur kehidupan anak-anaknya, terutama dalam hal menikah. <em>Kedua,</em> gereja melakukan pembinaan dan memanimalisir jumlah perempuan yang tidak menikah, dan sekaligus melakukan pembinaan terhadap mereka supaya dapat menerima keadaan mereka, serta mampu menjalani kehidupan mereka dengan baik.</p> Copyright (c) 1970 Popiani Mendrofa http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/29 Kajian Biblika Terhadap Makna “Ta Stigmata Tou Iesou” dalam Galatia 6:17 2020-05-06T20:09:58+07:00 Adi Putra addiepoetra7@gmail.com <p>Artikel ini membahas tentang kajian Biblika terhadap ungkapan “Ta Stigmata Tou Iesou” (?? ???????? ??? ?????) dalam Galatia 6:17, dengan tujuan agar makna yang sesungguhnya dari ungkapan tersebut dapat diperoleh dan orang Kristen dapat menerapkan dalam kehidupan praktisnya. Penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang secara spesifik merujuk kepada kajian biblika. Melalui studi Apparatus, analisis dan sintaksis, serta studi narasi interpretative terhadap teks Galatia 6:17, penulis menemukan bahwa ungkapan tersebut merupakan cap fisik yang Paulus peroleh melalui penganiayaan yang dialaminya karena iman dan kegigihannya memberitakan Injil Kristus. Paulus hendak mempertentangkan tanda-tanda fisik milik Kristus yang melekat ditubuhnya itu dengan tanda sunat yang sangat diagung-agungkan oleh orang Yahudi di Galatia. Dan, secara tegas menekankan kepada jemaat Tuhan di Galatia agar lebih memikirkan tanda-tanda penganiayaan pada tubuhnya karena iman dan kegigihan dalam memberitakan Injil Kristus dari sekedar sunat yang telah merusak iman mereka.</p> 2020-03-20T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Adi Putra http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/28 Lowalangi Sebagai Nama Allah 2020-04-27T16:57:42+07:00 Devy Leonardo Richard Souisa davidson.s@sttsundermann.ac.id <p>The term Lowalangi turned out to be still polemic in Christianity, especially among the followers of the Jehovah's Witness, a flow of belief that developed rapidly in Nias and strongly opposed the use of the term Lowalangi in Nias Christian beliefs. For them, if Nias Christians still use the term Lowalangi in worship, prayer and worship, it indicates that Nias Christians still worship deities because Lowalangi is a pre-Christian Nias deity. Therefore, this paper aims to provide a comprehensive picture of the adoption of the name Lowalangi as the name of God by the missionary L.E. Denninger, also Sundermann and Steinhart, so that all Nias Christians, as well as all ministers and members of the BNKP congregation, have a correct understanding of Lowalangi. For this reason, this discussion about the Lowalangi is described through an analysis of the history of the Israelite Bible, specifically the use of the terms Elohim and Theos as the name of God. The analysis shows that in the history of Israel, the name of God (Elohim and Theos) was also taken from the name of a god and then given a new meaning to it to distinguish it from the gods of the surrounding nations. An attempt at contextualizing theology in order to build the faith of believers. Thus what was done by Denninger, Sundermann, and Steinhart has a parallel with what happened in the history of the faith of the people of Israel.&nbsp;</p> Copyright (c) 1970 Devy Leonardo Richard Souisa http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/27 Analisis Fenomenologi Deskriptif terhadap Panggilan Iman Kristen untuk Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia 2020-05-06T20:10:37+07:00 Dorkas Orienti Daeli dorkasdaeli@sttsundermann.ac.id Sonny Eli Zaluchu sonnyzaluchu@stbi.ac.id <p>Sifat majemuk Indonesia berlangsung di dalam segala sisi. Salah satunya adalah kemajemukan di dalam azas kepercayaan dan keberagaman di dalam menganut agama. Di tengah keberagaman seperti itu, kekristenan dituntut untuk menjelaskan dirinya sebagai terang dan garam dunia kepada penganut agama lain dalam semangat kerukunan dan pluralisme. Tulisan ini menyimpulkan bahwa salah satu kunci utama membangun kerukunan adalah mengembangkan sikap dialogis yang terbuka, jujur dan saling percaya antar-umat beragama. Dialog akan membuka pintu yang tertutup akibat sikap saling curiga dan eksklusifisme. Dalam paper ini juga dijelaskan bahwa kerukunan umat beragama bukanlah pilihan melainkan panggilan di dalam keyakinan kristiani untuk menjadi berkat bagi pemeluk keyakinan lain. Analisis dan pengembangan di dalam tulisan ini dilakukan dengan model fenomenologi deskriptif.</p> 2019-11-23T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2019 Dorkas Orienti Daeli, Sonny Eli Zaluchu