SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann en-US <p>Authors who publish with Sundermann Journal agree with the following requirements:</p> <ol> <li>The author retains the copyright and provides the Sundermann Journal with the right of the first publication with the paper simultaneously licensed under the <a href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/">Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License</a> that allows others to freely share and quote this work with the recognition of authorship of the author's work and initial publications in Sundermann Journal.</li> <li>Authors are permitted to distribute versions published in this journal (for example posting to institutional repositories or publishing them in a book), recognizing initial publications in Sundermann Journal.</li> </ol> jurnal@sttsundermann.ac.id (Eirene Kardiani Gulo) charles.harefa201@gmail.com (Charles Adelfrid Harefa) Thu, 28 Dec 2023 13:16:59 +0700 OJS 3.2.1.0 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 R Reinterpretasi terhadap Narasi Yohanes 7:53;8:1-11 Menurut Lensa Feminisme http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/158 <p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk membangun konsep kesetaraan gender melalui interpretasi perempuan dalam Injil Yohanes 7:53; 8:1-11 dalam konteks perempuan pelacur, dengan menggunakan lensa feminisme. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis teks berbasis feminisme, dengan mengidentifikasi aspek-aspek yang relevan dengan perempuan pelacur dan menganalisis konteks sosial dan agama pada masa itu. Hasil temuan menunjukkan bahwa interpretasi feminis terhadap perempuan pelacur dalam teks tersebut dapat memberikan kontribusi signifikan dalam memperluas pemahaman tentang peran perempuan dalam konteks agama dan mendorong kesetaraan gender. Melalui pendekatan ini, perempuan pelacur diberikan suara dan diangkat ke dalam narasi agama, memperlihatkan pengalaman mereka yang sering kali diabaikan atau dianggap negatif. Kajian ini menunjukkan bahwa perempuan pelacur tidak hanya dipandang sebagai objek atau simbol dosa, tetapi juga sebagai individu dengan kekuatan dan potensi transformasional. Hasil penelitian ini mendorong pemahaman yang lebih inklusif dan memperkuat gerakan kesetaraan gender dalam konteks agama. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa interpretasi feminis terhadap perempuan pelacur dalam Injil Yohanes 7:53; 8:1-11 dapat membantu membangun konsep kesetaraan gender yang lebih inklusif dan mengatasi stereotip serta diskriminasi terhadap perempuan. Penelitian ini memberikan pemahaman baru tentang peran perempuan dalam agama dan mendorong adanya tindakan yang lebih progresif dan inklusif dalam mencapai kesetaraan gender.</span></p> <p>&nbsp;</p> darihati Zega Copyright (c) http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/158 P Melayani dengan Sepenuh hati berdasarkan 2 Korintus 3:2-3 http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/157 <p>Artikel ini ditulis untuk membantu para pendeta memahami panggilan dan tanggung jawab sebagai hamba Tuhan. Sering sekali para pendeta tidak mendapatkan rasa nyaman dalam pelayanan. Membuat beberapa pendeta tidak lagi melayani dengan sepenuh hati, melayani hanya sebagai formalitas dan rutinitas saja. Hal ini dapat berdampak buruk bagi jemaat yang dilayani, yakni menurunnya kualitas rohani jemaat dan menurunnya antusias warga jemaat dalam bersekutu. Maka untuk menjawab persoalan ini, penulis menganalisis perspektif Paulus tentang panggilan dan tanggung jawab pelayanan melalui analisis konteks pada 2 Korintus 3:2-3. Karena 2 Korintus berisi pembelaan Paulus akan kerasulannya, sebab beberapa dari antara warga jemaat menggugat kerasulannya, mereka telah terprovokasi oleh rasul-rasul palsu yang datang ke Korintus. Sehingga mereka mulai meragukan dan mempertanyakan keaslian kerasulan Paulus, menuduh Paulus sebagai penyesat, licik dan penipu. Meskipun Paulus tersakiti oleh sikap warga jemaat terhadapnya, Paulus tetap setia dan tetap melayani jemaat Korintus dengan sepenuh hati. Paulus menegaskan jemaat Korintus adalah bukti kerasulannya yang tertulis dan tersimpan dalam hatinya. Paulus memahami kerasulannya merupakan anugerah kehendak Allah yang telah memanggil dan memilih dirinya. Baginya penderitaan dan pengorbanan dalam pelayanan merupakan sarana untuk mendemonstrasikan kehidupan Kristus, dan jemaat Korintus yang ia dirikan merupakan tanggung jawab yang telah dipercayakan Allah pada dirinya. Sehingga membuat Paulus tetap melayani dengan sepenuh hati meskipun tersakiti.</p> Berkat Oktafianus Waruwu Copyright (c) http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/157 P Perempuan dan Kebebasan: Eksegese Yohanes 8:1-11 http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/156 <p><sup>Yesus tidak pernah memandang adanya hierarki di antara manusia, Ia tidak pernah memandang seseorang lebih rendah dibanding yang lain hanya kerena pekerjaan, pendidikan, status sosial bahkan gender. Yesus tidak pernah menganggap perempuan itu kelasnya di bawah laki-laki. Ia selalu berkata dalam kualitas yang sama terhadap semua orang (laki-laki dan perempuan), sebagai manusia yang bebas dan merdeka. Akan tetapi, Orang Kristen Nias, khususnya Nias Barat sudah sejak dahulu memiliki pandangan yang melemahkan daya aktualisasi diri perempuan. Kehidupan yang berjalan selalu mengutamakan laki-laki dan menjadikan perempuan sebagai pilihan kedua. Dari sisi adat bahkan agama, perempuan dipandang tidak memiliki kemampuan yang lebih dari laki-laki dan sering diperlakukan layaknya benda mati yang menjadi hak milik keluarga atau komunitas. Perempuan adalah sosok yang lemah secara fisik dan tidak bisa mengemban tanggung jawab dalam memimpin komunitas. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui cara pandang Yesus terhadap perempuan berdasarkan Yohanes 8:1-11 dan bagaimana pandangan ini menjadi teladan yang dapat membebaskan orang Kristen Nias Barat dari pandangan patriarki. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif melalui observasi dan wawancara, penulis menemukan bahwa masih ada orang Kristen Nias Barat yang memandang perempuan sebagai barang milik keluarga dan komunitas serta lebih rendah derajatnya dibanding laki-laki. Dengan demikian, paradigma Yesus dalam Yohanes 8:1-11 dapat membebaskan orang Kristen Nias Barat dari pandangan patriarki serta memberikan keberanian kepada perempuan untuk melawan segala keterikatan yang melemahkan dirinya sebagai seorang perempuan.</sup></p> Meliana Carolina Putri Waruwu Copyright (c) http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/156 Menuju Keseimbangan Ekologis: Sebuah Analisis Teologi, Ekologi dan Ekonomi Terhadap Penimbunan Hutan Mangrove di Batam http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/155 <p>Alam dan manusia merupakan ciptaan Allah yang saling berhubungan dalam kehidupan. Pemanfaatan alam oleh manusia seharusnya dilakukan secara bertanggung jawab. Akan tetapi, tindakan manusia tidak jarang bermuara kepada eksploitasi alam. Keadaan alam semakin memprihatinkan yang kemudian memberikan dampak yang besar bagi kehidupan manusia, khususnya di kota Batam. Tindakan manusia untuk memuaskan kepentingan pribadi membuat ekosistem mangrove, laut, masyarakat dan lingkungan menjadi korban. Tulisan ini menunjukkan bahwa kerusakan hutan mangrove terjadi karena adanya ketidakseimbangan hubungan antara ekologi dan ekonomi. Untuk mengkaji permasalahan ini, penulis menggunakan teori bioregionalisme-transaksionalisme dari Richard Evanoff, kewirausahan lestari oleh Yahya Wijaya dan beberapa pandangan lainnya yang mendukung penelitian ini untuk meneliti krisis ekologi yang terjadi di Batam. Sehingga melalui teori-teori ini kemudian dapat menjadi tawaran dalam menganalisis permasalahan ketedikseimbangan teologi, ekologi dan ekonomi di Batam. Tulisan ini juga sekilas melihat pada respon aktual gereja, khususnya Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) terhadap isu lingkungan di Batam.</p> Ranti Marzuki Copyright (c) http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/155 Misi Inklusif Yunus Ke Niniwe: Hermeneutika Yunus 3: 1-10 Dalam Konteks Pluralisme Di Indonesia http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/154 <p>This article aims to explain how inclusive mission is in the context of the Old Testament, specifically in Jonah's inclusive mission to Nineveh in Jon.3:1-10. This mission refers to a task or goal that involves all people or groups, regardless of background, social status, or race. In this text, the idea of mission includes the relationship between humans and God, as well as the roles and tasks carried out by prophets or groups in God's plan. Next, this article discusses the central ideas of mission, including God's decree, liberation and covenant, repentance, salvation, and conveying God's message. It is emphasized that mission was not only exclusive to Jews in the Old Testament, but was also inclusive of all people and cultures. This research was conducted using the Historical criticism method. The author first examines inclusive mission in the context of various stories in the Old Testament, including the story of Jonah which represents the rejection and then acceptance of God's inclusive mission to the Ninevites. Next, the author analyzes by paying attention to the text and context in depth so as to find a clear theological content of the text Jon.3:1-10. The text sees the need for a new approach to mission in the modern era marked by pluralism. Finally, the author discusses possible missiological tasks, including cultural and religious research, developing mission strategies, training and education, as well as coaching and mentoring specifically on diversity in Indonesia.</p> Magel Haens Sianipar Copyright (c) http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/154 RE-INTERPRETASI INJIL DALAM KEMAJEMUKAN http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/153 <p><em>This article aims to conduct a theological review of the text Psalm 137:1-9 from the perspective of the Gospel’s encounter with religious pluralism. In recent years, a new perception of a pluralistic environment has emerged, where pluralism is rapidly forming the character of a theology. Therefore, like it or not, a re-interpretation of the Bible is needed to minimize the friction that occurs in every encounter with pluralism. Therefore, the author will attempt to outline the conceptual idea of re-interpretation of the Gospel and confront it with the text of Psalm 137:1-9 using a missional hermeneutic approach. This article concludes that claiming that the Gospel is true for everyone is a forms of hubris. The Gospel must be allowed as one opinion among many others.</em></p> Rynaldi Mahardika Situmeang Copyright (c) http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/153 Tantangan Orang Percaya Menghadapi Kekristenan Progresif: Jawaban Alkitabiah Dalam Mempertahankan Iman http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/152 <p>Kekristenan Progresif sementara menjadi pembahasan dan kajian banyak Hamba Tuhan dalam beberapa waktu terakhir ini. Perkembangannya semakin signifikan di mana ajarannya mulai diterima di Indonesia dan mengubah konsep kekristenan konservatif yang berdasarkan pemahaman Alkitabiah. Terlihat sama sebagai orang Kristen tetapi para penganut kepercayaan kekristenan progresif berdiri di atas fondasi iman yang berbeda. Penelitian ini dilakukan sebagai antitesis terhadap berbagai pengajaran Kekristenan progresif yang mencoba meredefenisi ulang iman kepercayaan mengenai keselamatan, dan Alkitab sebagai Firman Tuhan. Berdasarkan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, maka penelitian ini menemukan, <em>pertama, </em>keselamatan adalah anugerah Allah bukan karena perbuatan baik atau menjadi orang baik; <em>kedua, </em>keselamatan diperoleh karena mengaku dengan mulut dan percaya di dalam hati kepada Yesus Kristus; <em>ketiga, </em>Alkitab adalah Firman Allah, berasal dari Allah yang diilhamkan kepada Para Rasul. Penelitian ini menjadi peringatan bagi setiap orang percaya agar kembali meneliti nilai-nilai kebenaran Alkitabiah dan menolong mereka untuk tetap mempercayai Alkitab sebagai Injil Kebenaran dan menolak berbagai ajaran yang menyesatkan.</p> Aska Aprilano Pattinaja Copyright (c) http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/152 Gereja 5.0: Bertransformasi atau Terlupakan? http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/151 <p>Dalam konteks era Masyarakat 5.0 yang dicirikan oleh kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang cepat, peran gereja menjadi semakin penting dalam membimbing umatnya menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan rohani dan moral. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran gereja di era Masyarakat 5.0 serta tantangan dan peluang yang dihadapinya. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis literatur untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menghadapi dinamika sosial yang kompleks, gereja harus mengadopsi pendekatan dialogis, kontekstual, dan responsif. Komunikasi yang efektif, pelestarian integritas teologis, dan pengembangan keterampilan kepemimpinan yang serbaguna menjadi kunci dalam menjawab tantangan tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa gereja memiliki potensi untuk memenuhi perannya sebagai penggambar, penggembala, dan pengudusan bagi umat beriman, serta menjadi agen perubahan yang konstruktif dalam membangun masyarakat yang lebih harmonis dan berdaya saing. Abstrak ini memberikan gambaran yang jelas tentang konten artikel ini, mengajak pembaca untuk mengeksplorasi lebih lanjut tentang peran gereja di era Masyarakat 5.0.</p> Yabes Darling Gulo, Samuel Herman Copyright (c) http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/151 Mengungkap Asal – Usul Tahu Takwa Sebagai Identitas Kuliner Kota Kediri http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/149 <p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Tahu Taqwa, sebuah ikon kuliner di Kota Kediri, telah memikat hati masyarakat lokal dan wisatawan dengan rasa khas dan keunikan yang membedakannya. Artikel ini mengulas sejarah kemunculan Tahu Taqwa, proses pembuatannya, dan bagaimana ia menjadi bagian integral dari identitas kuliner Kota Kediri. Berawal dari kedatangan pasukan Kubilai Khan pada tahun 1292, tahu masuk ke Nusantara dan kemudian menjadi bagian penting dari budaya kuliner Indonesia. Lauw Soen Hoek, pelopor Tahu Taqwa di Kota Kediri, dan keluarganya telah menjaga tradisi pembuatan tahu dengan tekun dan dedikasi. Proses pembuatan tahu secara tradisional dilakukan dengan pemilihan kedelai terbaik, penggilingan menggunakan gilingan batu, pemasakan dengan tungku kayu bakar, dan pewarnaan dengan kunyit. Tahu Taqwa memiliki keunikan warna kuning, rasa yang khas, dan tekstur yang kenyal namun lembut. Produk ini tidak hanya dianggap sebagai makanan, tetapi juga sebagai identitas etnis dan budaya, yang membuat Kota Kediri dikenal sebagai "Kota Tahu". Dukungan pemerintah dan minat masyarakat tinggi terhadap Tahu Taqwa membuka peluang pengembangan usaha tidak hanya di Kota Kediri tetapi juga di daerah lain yang memiliki keseragaman bahan baku dan budaya konsumsi pangan yang serupa.</span></span></p> <p>&nbsp;</p> Ulan Copyright (c) http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/149 Spiritual Experience Dasar Program Pendidikan Agama Kristen (Kajian Epistemologi Teologi Divinitas Karl Rahner) http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/148 <p><em><span style="font-weight: 400;">Spiritual Experience</span></em><span style="font-weight: 400;"> Karl Rahner lahir, bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan tradisi Katolik yang kuat. Sebagai penganut tradisi spiritualitas Katolik, maka karya-karyanya mencerminkan nilai-nilai Katolikisme. Karya-karya utama itu sebagian besar mencakup : epistemologi teologi, teologi transendental, sakramen dan realitas, iman dan rasionalitas. Pemikiran epistemologi teologi divinitasnya secara komprehensif sangat memengaruhi teologi dan dokrin gereja Katolik pada zamannya hingga kemudian memberi ciri pada aspek yang universal gereja itu sendiri. Kajian ini berupaya menguraikan epistemologi teologi divinitasnya bagi pendidikan agama kristen. Pendekatan ini penting khususnya bagi implementasi pendidikan agama kristen di lingkungan perguruan tinggi. Seluruh pelaku pendidikan itu mengalami dan menjalankan tugas serta tanggungjawabnya dalam konsep </span><em><span style="font-weight: 400;">Spiritual Experience</span></em><span style="font-weight: 400;">. Sebagaimana Rahner menunjukkan </span><em><span style="font-weight: 400;">Spiritual Experience</span></em><span style="font-weight: 400;"> itu berdampak luas dalam gereja, masyarakat dan bangsa secara universal, demikianlah pendidikan agama kristen mengembangkan kehidupan </span><em><span style="font-weight: 400;">science </span></em><span style="font-weight: 400;">atas dasar iman yang kokoh.&nbsp;</span></p> Bangun Copyright (c) http://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/148