https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/issue/feed SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan 2025-12-10T22:56:10+07:00 Devy Leonardo Richard Souisa jurnal@sttsundermann.ac.id Open Journal Systems https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/235 Public Theology of the Gereja Protestan Maluku in Management of Religious Plurality in Ambon City 2025-12-10T22:43:01+07:00 Kevin Tomy Nanlohy kev.nan21@gmail.com Steve Gerardo Christoffel Gaspersz steve.gaspersz@ukim.ac.id <p>Artikel ini membahas peran publik Gereja Protestan Maluku (GPM) dalam mengelola pluralitas agama di Kota Ambon pascakonflik sosial 1999-2004. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif naratif, penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana transformasi teologis GPM dari eksklusivisme menuju pluralisme berkontribusi pada rekonsiliasi sosial dan pembangunan perdamaian lintas agama. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatoris, serta analisis dokumen gerejawi seperti <em>Ajaran Gereja GPM</em> dan <em>Pola Induk Pelayanan</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GPM menegaskan misi gerejanya melalui teologi publik yang bersifat interkontekstual, yaitu refleksi iman yang menghubungkan dimensi spiritual, sosial, dan budaya secara dialogis. Pendekatan ini diwujudkan dalam berbagai inisiatif konkret, seperti pendidikan perdamaian, pemberdayaan ekonomi lintas agama, program <em>live-in</em> antarumat, serta revitalisasi tradisi lokal <em>Pela-Gandong</em> sebagai instrumen rekonsiliasi kultural. Melalui strategi ini, GPM tidak hanya berperan sebagai lembaga religius, tetapi juga sebagai aktor sosial yang aktif mendorong keadilan struktural dan kohesi sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teologi publik GPM merupakan model praksis iman kontekstual yang mampu mentransformasi luka sejarah menjadi energi sosial untuk membangun tatanan masyarakat plural yang damai dan berkeadilan.</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/199 Memahami Eklesiologi sebagai Dasar Pengorganisasian Penatalayanan Gereja 2025-10-23T20:22:48+07:00 Leonardo Pebriadi Simanjuntak simanjuntakl637@gmail.com Andreas Tanada Tampubolon andreastampubolon110@gmail.com <p>Gereja dalam perkembangannya telah mengalami begitu banyak perubahan terutama mengenai pengorganisasian penatalayanan gereja. Terlebih dalam pemahaman eklesiologi sebagai dasarnya, karena ini merupakan kajian teologis tentang gereja yang mencakup hakikat fungsi, serta struktur kepemimpinan dan organisasi. Pemahaman ini menjadi dasar penting dalam membangun pengorganisasian penatalayanan gereja, sebab gereja tidak hanya Lembaga keagamaan, tetapi sebagai tubuh Kristus yang hadir di tengah dunia. Penatalayanan dalam gereja bertujuan mengatur pelayanan secara terstruktur sehingga sumber daya rohani, material dan manusia dapat dikelola dengan efektif demi mencapai misi Kristus. Tulisan ini menekankan bahwa eklesiologi yang sehat harus bersifat kontekstual, yaitu berakar pada Alkitab sekaligus menyesuaikan diri dengan dinamika budaya, sosial dan sejarah jemaat. Fungsi utama gereja diwujudkan dalam tiga aspek, yaitu <em>koinonia </em>(persekutuan), <em>marturia </em>(kesaksian) dan <em>diakonina</em> (pelayanan). Dalam praktiknya, kepemimpinan gereja dipahami sebagai panggilan rohani dimana Kristus adalah Kepala Gereja, namun gereja tetap memerlukan pemimpin yang mampu mengatur dan membimbing jemaat. Dalam tulisan ini diuraikan juga ada empat system kepemimpinan gereja, yaitu kongregasional, episkopal, sinodal dan presbiterial, masing-masing dengan karakteristik dan tantangan tersendiri. Dengan demikian, eklesiologi berfungsi bukan hanya sebagai doktrin, tetapi juga sebagai dasar praktis dalam pengorganisasian gereja agar tetap relevan, bertumbuh dan setia pada panggilannya di tengan perubahan zaman.</p> <p>Kata kunci: gereja, misi kristus, koinonia, diakonia, marturia</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Leonardo Pebriadi Simanjuntak, Andreas Tanada Tampubolon https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/196 Ketentuan Hukum Hak-Hak Manusia dalam Keluaran 23:1-9 dalam Menciptakan Keadilan bagi Semua Orang 2025-10-22T10:26:58+07:00 Magel Haens Sianipar sianiparmagel@gmail.com Udur Ernita Aritonang udurernitaaritonang2019@gmail.com <p>Keluaran 23:1-9 merupakan bagian dari Kitab Perjanjian (KP) yang memuat aturan peradilan yang ditetapkan oleh Allah untuk Israel. Meskipun dalam bingkai luar Kitab Perjanjian, redaktur dikemudian hari menyatukan bagian ini dengan Kel.23:10-13. Pasal ini secara khusus berbicara mengenai aturan peradilan yang diberikan oleh Allah kepada bangsa Israel. Teks ini bukanlah hukum terkait keputusan dalam perkara, melainkan aturan-aturan yang menjelaskan integritas seseorang atau Israel dalam konteks pengadilan. Ketentuan ini melibatkan aspek yang meluas, dari kehidupan bersama hingga perlakuan terhadap musuh dan orang asing. Teks berada dalam konteks aturan pengadilan, menekankan pentingnya integritas dalam berperan sebagai pengadil, saksi, terdakwa, atau penggugat. Keadilan Yahwe terwujud dalam menjaga keadilan dan kebenaran dalam proses hukum. Melalui metode Teologia Biblis, penulis pertama-tama menggali makna kata kunci dan konteks historis teks dengan pendekatan hermeneutika Historis Kritis, dan kemudian menyimpulkan gagasan teologis dalam Kel.23:1-9 dengan tinjauan teologia biblis. Kesimpulan teologis&nbsp; dalam teks, menyoroti keadilan Yahwe yang tidak berpihak, setara, pro kebenaran, berlaku untuk semua, mengandung kebebasan, dan memiliki batasan penghukuman yang adil. Keadilan ini mencerminkan integritas umat Yahwe yang hidup dalam kebenaran, kejujuran, dan kasih kepada semua, tanpa memandang status atau asal-usul, melibatkan solidaritas dan cinta terhadap sesama, musuh, dan orang asing. Keseluruhan, Keluaran 23:1-9 menjadi panduan nilai-nilai keadilan yang relevan bagi orang percaya pada masa kini.</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Magel Haens Sianipar https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/178 Meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama Kristen Melalui Teknologi Pendidikan Bagi Generasi Z dan Alpha 2025-06-04T18:08:24+07:00 Sozawato Telaumbanua soza.wate@gmail.com Nella Novianti Dakhi nellanoviantidakhi@gmail.com Cari Iman Gulo guloiman525@gmail.com <p>Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK). Generasi Z dan Alpha, yang hidup dan bertumbuh dalam lingkungan digital, sangat bergantung pada teknologi dalam hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran teknologi digital dalam pembelajaran PAK, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi pendidik dan peserta didik, serta merumuskan strategi pemanfaatan teknologi yang relevan dan efektif untuk generasi Z dan Alpha. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini menemukan bahwa teknologi mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran, memperluas akses terhadap sumber informasi, serta mendukung interaksi dan kolaborasi yang lebih luas. Meskipun demikian, sejumlah tantangan juga muncul, seperti ketergantungan berlebihan pada perangkat digital, berkurangnya interaksi sosial tatap muka, serta potensi penyalahgunaan media digital. Karena itu, diperlukan strategi yang tepat dalam pemanfaatan teknologi, termasuk pelatihan kompetensi digital bagi pendidik, penggunaan platform pembelajaran interaktif, serta pengembangan konten digital yang relevan dengan karakteristik generasi Z dan Alpha. Dengan pendekatan yang terarah, teknologi dapat menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan mutu pembelajaran PAK di era digital, memudahkan guru dan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Sozawato Telaumbanua https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/174 Pendeta Digital: Transformasi Fungsi Pastoral di Era AI dan Society 5.0 2024-12-29T19:22:00+07:00 Evans Sagala evansagalaa@gmail.com <p>Penelitian ini menganalisis transformasi fungsi pastoral dalam era <em>Society</em> 5.0, khususnya fenomena digitalisasi pelayanan gerejawi dan pergeseran peran pendeta dalam ruang digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fungsional melalui teori <em>The Artifice of Intelligence</em> dari Noreen Herzfeld, studi ini menyelidiki kesenjangan antara fungsi pastoral tradisional dan potensi pelayanan digital. Temuan mengungkapkan bahwa meskipun AI memiliki kapabilitas teknis dalam mendukung pelayanan gereja, aspek-aspek fundamental seperti relasi interpersonal, pemahaman kontekstual, dan penyampaian pesan spiritual tetap membutuhkan sentuhan kemanusiaan. Transformasi digital menghadirkan urgensi redefinisi fungsi pastoral yang membutuhkan keseimbangan antara inovasi digital dan nilai-nilai fundamental pelayanan. Kesimpulannya, substitusi total peran pendeta oleh AI bertentangan dengan hakikat pelayanan pastoral yang menekankan relasi interpersonal dan spiritualitas manusiawi, sehingga diperlukan kerangka teologis yang jelas untuk mengatur integrasi AI dalam pelayanan gerejawi.</p> 2024-12-28T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Evans Sagala https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/169 Menakar Ulang Gairah Relevansi Gereja 2024-12-28T16:42:04+07:00 Joas Adiprasetya jadiprasetya@gmail.com <p>This article aims to examine the myth of relevance lived by churches in Indonesia, which understands that the church must be relevant to the life issues in the world. This article takes a different path, namely, to critically question the assumption of relevance and proposing a different spiritual and ecclesial approach. Such an approach suggests that the church must be irrelevant to the world, in order to maintain its identity and calling received from the Triune God. The study is characteristically more conceptual than contextual, therefore a review of the context of churches in Indonesia is not specifically presented. A comparative study of the thoughts of Henri J. M. Nouwen, Timothy Radcliffe, Jonathan Menezes, and Mark Sayers is carried out analytically, which is then summarized through James Hunter's thoughts on the concept of “faithful presence,” which helps churches to maintain the tension between their identity and their relationship with the world.</p> 2024-12-28T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Joas Adiprasetya https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/166 Media Sosial sebagai Sarana Pendidikan Kristiani: Suatu Upaya untuk Mendidik Generasi Z 2024-12-12T08:42:38+07:00 Amonita Waruwu amonitawaruwu1987@gmail.com <p>Media sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z, generasi ini lahir pada saat internet telah tersedia dan mereka sangat bergantung pada teknologi untuk mengakses informasi. Sebagai respons terhadap perubahan realitas ini, gereja menghadapi tantangan dan peluang untuk mengadaptasi metode Pendidikan Kristiani dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana pembelajaran untuk menjangkau generasi ini. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana gereja dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana yang relevan bagi Pendidikan Kristiani untuk mendidik Generasi Z. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan mengumpulkan, mengevaluasi, dan menganalisis sumber-sumber yang relevan dengan bidang penelitian. Melalui studi literatur, dan hasil survei, ditemukan bahwa penggunaan media sosial dapat memperkuat penyampaian ajaran agama, memperluas jangkauan komunitas, dan menciptakan ruang interaktif yang relevan bagi generasi muda. Namun, tantangan seperti distorsi informasi, ketergantungan pada teknologi, bahaya kedangkalan karena ketiadaan berpikir serta kurangnya keterlibatan langsung dalam kehidupan berjemaat tetap menjadi hambatan yang perlu diatasi oleh gereja. Penelitian ini menawarkan pentingnya mengintegrasikan strategi digital dengan pendekatan pastoral untuk merelevansikan pendidikan kristiani yang relasional dan inkarnasional.</p> 2024-12-28T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Amonita Waruwu https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/165 Kajian Teologis Pernikahan Kudus Berdasarkan Kitab Kidung Agung Sebagai Kritikan Terhadap Penyimpangan Dalam Ikatan Pernikahan 2024-10-16T10:02:20+07:00 Sabda Budiman sabdashow99@gmail.com Yunus DA Laukapitang sabdashow99@gmail.com <p>Pernikahan merupakan salah satu bagian dari tahap kehidupan manusia yang lazim terjadi. Inisiatif dari pernikahan ialah Allah sendiri. Dasar, tujuan, dan esensi dari pernikahan sesungguhnya telah jelas ditetapkan oleh Allah. Namun dalam kenyataannya, banyak penyimpangan yang terjadi. Kasus seperti seks di luar nikah, LGBT, Kumpul Kebo, poligami dan juga perceraian turut merusak dasar dan esensi dari pernikahan. Oleh karena itu, artikel ini ditulis guna memberikan sumbangsih bagi gereja dalam mempertegas dasar Alkitab tentang pernikahan kudus sekaligus mengkritisi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam pernikahan. Penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library reaserch) dan pendekatan eksegesis guna menemukan makna yang utuh dari teks yang dikaji. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa masa berpacaran merupakan momen yang indah yang seharusnya menjadi awal terbentuknya keluarga. Kemudian dalam berpacaran juga terdapat batasan keintiman serta seks harus dinikmati dalam ikatan pernikahan. Relevansi bagi pernikahan kudus yaitu pernikahan adalah hubungan yang dilakukan oleh pria dan wanita, penolakan akan hubungan seks di luar pernikahan, dan hubungan dan kehidupan suami-isteri harus didahului dengan upacara pernikahan yang resmi.</p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Sabda Budiman, Yunus DA Laukapitang https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/173 Menciptakan Equilibrium: Harmonisasi Kekuasaan Konstruktif Vs Otoritarianisme Politik dalam Etika Kristen 2024-12-12T17:10:46+07:00 Roy Haries Ifraldo Tambun roytambun521@gmail.com <p>Kekuasaan Konstruktif dan otoritarianisme politik di Indonesia memiliki hubungan yang erat dan signifikan, menciptakan fenomena yang meresahkan dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor penyebab dan dampak penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi dalam konteks politik Indonesia. Melalui metodologi penelitian kualitatif, berbagai sumber literatur dianalisis untuk memahami dampak negatif dari kekuasaan yang tidak terkendali, termasuk munculnya praktik korupsi, kolusi, serta lemahnya penegakan hukum. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi kuat antara penyalahgunaan kekuasaan dengan ketidakadilan sosial dan erosi kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan. Penelitian ini merekomendasikan perlunya reformulasi kebijakan yang lebih efektif dan penerapan etika Kristen dalam praktik politik. Dengan mengedepankan prinsip-prinsip etika, diharapkan kekuasaan dapat digunakan untuk melayani masyarakat secara adil, menciptakan lingkungan kondusif bagi pembangunan berkelanjutan, serta memberikan wawasan baru bagi pembuat kebijakan dalam menangani masalah otoritarianisme dan penyalahgunaan kekuasaan di Indonesia.</p> 2024-12-28T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Roy Haries Ifraldo Tambun https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/153 Mazmur 137:1-9 sebagai Cermin Trauma dan Teks Rekonsiliatif 2024-05-06T12:45:01+07:00 Rynaldi Mahardika Situmeang rynaldi.situmeang160402@gmail.com <p><em>This article aims to conduct a theological review of the text Psalm 137:1-9 from the perspective of the Gospel’s encounter with religious pluralism. In recent years, a new perception of a pluralistic environment has emerged, where pluralism is rapidly forming the character of a theology. Therefore, like it or not, a re-interpretation of the Bible is needed to minimize the friction that occurs in every encounter with pluralism. Therefore, the author will attempt to outline the conceptual idea of re-interpretation of the Gospel and confront it with the text of Psalm 137:1-9 using a missional hermeneutic approach. This article concludes that claiming that the Gospel is true for everyone is a forms of hubris. The Gospel must be allowed as one opinion among many others.</em></p> 2025-12-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2025 Rynaldi Mahardika Situmeang