https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/issue/feed SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan 2024-06-14T22:00:57+07:00 Eirene Kardiani Gulo jurnal@sttsundermann.ac.id Open Journal Systems https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/161 Pemeliharaan Allah Dalam Konteks Bencana Alam 2024-06-14T22:00:57+07:00 jonson marpaung marp.joe29@gmail.com <p>Bencana alam merupakan peristiwa yang tidak seorangpun dapat mengetahui kapan akan terjadi, tidak seorang pula menghendaki agar hidupnya mengalami suatu musibah atau bencana alam. Namun tidak seorangpun juga dapat menolaknya jika hal itu terjadi dalam kehidupan kita. Bencana alam sering dianggap sebagai ungkapan marah Tuhan kepada umat manusia, juga dianggap sebagai perbuatan manusia yang menolak atau tidak melakukan perintah Tuhan. Oleh karena itu Isu lingkungan menjadi topik yang hangat dibicarakan pada abad ke-21 ini. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa dunia ini akan hancur oleh dua penyebab yaitu perang nuklir dan kerusakan lingkungan. Isu lingkungan sebenarnya bukanlah isu yang baru, namun karena dampaknya sudah mulai terasa secara global, dunia baru mulai bersuara. Dalam iman Kristen, Kitab Suci sendiri banyak menyinggung soal permasalahan lingkungan bahkan sejak manusia pertama diciptakan. Pemeliharaan lingkungan menjadi tanggung jawab yang besar bagi orang Kristen karena itu lahir dari konsep teologi Kristen mengenai penciptaan dan mandat penatalayanan yang Allah percayakan bagi manusia. Maka kita akan melihat bahwa pemeliharaan Allah bagi umatnya akan tetap berlangsung meskipun Tuhan mengijinkan terjadinya bencana alam dalam kehidupan umat manusia.</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/160 MNG Jepin Dance as a cultural event of Pontianak City birthday celebration 2024-06-06T14:57:11+07:00 Naufal Ghazy muhmammadnopal337@gmail.com <p>Art culture can be defined as a skill in activities that express aesthetic ideas and thoughts, as well as realize the ability and imagination of views on some objects, works, or atmosphere that can heed and create a more advanced human civilization. The arts can be defined as a skill in activities that express aesthetic ideas and thoughts, and embody the ability and imagination of the view of some movements, works, or atmosphere that can heed and create a more advanced human civilization. The arts include various forms of artistic expression, such as visual arts, music, theater arts, literary arts, and dance, all of which have the aim of expressing values of beauty and nobleness through various media branches of art. Art in dance can be defined as a form of expression that combines body movements with music, performed in a certain place and time to express feelings, intentions, or thoughts. Dance uses three main elements, namely the element of raga (body movement), the element of rhythm (music), and the element of rasa (feeling), to create an expression of the human soul that can bring charm. In this definition, dance is considered as a medium to express feelings and emotions through beautiful and rhythmic body movements, accompanied by appropriate music.</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/159 Metode Kontekstualisasi Arat Sabulungan Sebagai Pendekatan Pemberitaan Injil Berdasarkan 1 Korintus 9:19-22 2024-05-23T22:37:21+07:00 Isaac isaac_dio@sttekumene.ac.id <p>This article aims to find a method of evangelism that is<br>contextualized within a particular culture, specifically the Arat<br>Sabulungan belief from Mentawai. This belief emphasizes the<br>balance between nature and humans and uses leaves in ritual<br>ceremonies to connect humans with God or Ulau Manua. The<br>existence of some similar values and principles between the<br>Arat Sabulungan belief and the Gospel makes there a little gap<br>for the Gospel to enter through this culture. The methods used<br>in this research are literature study and biblical studies.<br>Biblical studies are obtained from the study of the<br>interpretation of the text of 1 Corinthians 9:19-22 using<br>grammatical and historical lenses. This research will begin<br>with a discussion of the Arat Sabulungan culture, then<br>continue with a biblical study of the text of 1 Corinthians<br>9:19-22. In the last section, the researcher will present the<br>results of the biblical study and its relevance for contextual<br>evangelism methods. In this context, evangelism should be<br>done cross-culturally, as Paul did in his missionary journeys.<br>Paul's evangelistic strategy in 1 Corinthians 9:19-22<br>emphasizes adjusting to the local culture without losing the<br>principles taught by the Lord Jesus. This contextualization<br>method aims to deliver the gospel in a way that is relevant<br>and effective for the Mentawai people, while still respecting<br>and maintaining their cultural elements that do not contradict<br>the principles of the gospel.</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/158 R Reinterpretasi terhadap Narasi Yohanes 7:53;8:1-11 Menurut Lensa Feminisme 2024-05-22T08:43:14+07:00 darihati Zega darihati.zega@sttekumene.ac.id <p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk membangun konsep kesetaraan gender melalui interpretasi perempuan dalam Injil Yohanes 7:53; 8:1-11 dalam konteks perempuan pelacur, dengan menggunakan lensa feminisme. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis teks berbasis feminisme, dengan mengidentifikasi aspek-aspek yang relevan dengan perempuan pelacur dan menganalisis konteks sosial dan agama pada masa itu. Hasil temuan menunjukkan bahwa interpretasi feminis terhadap perempuan pelacur dalam teks tersebut dapat memberikan kontribusi signifikan dalam memperluas pemahaman tentang peran perempuan dalam konteks agama dan mendorong kesetaraan gender. Melalui pendekatan ini, perempuan pelacur diberikan suara dan diangkat ke dalam narasi agama, memperlihatkan pengalaman mereka yang sering kali diabaikan atau dianggap negatif. Kajian ini menunjukkan bahwa perempuan pelacur tidak hanya dipandang sebagai objek atau simbol dosa, tetapi juga sebagai individu dengan kekuatan dan potensi transformasional. Hasil penelitian ini mendorong pemahaman yang lebih inklusif dan memperkuat gerakan kesetaraan gender dalam konteks agama. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa interpretasi feminis terhadap perempuan pelacur dalam Injil Yohanes 7:53; 8:1-11 dapat membantu membangun konsep kesetaraan gender yang lebih inklusif dan mengatasi stereotip serta diskriminasi terhadap perempuan. Penelitian ini memberikan pemahaman baru tentang peran perempuan dalam agama dan mendorong adanya tindakan yang lebih progresif dan inklusif dalam mencapai kesetaraan gender.</span></p> <p>&nbsp;</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/157 P Melayani dengan Sepenuh hati berdasarkan 2 Korintus 3:2-3 2024-05-11T10:56:43+07:00 Berkat Oktafianus Waruwu berkatwaruwu1010@gmail.com <p>Artikel ini ditulis untuk membantu para pendeta memahami panggilan dan tanggung jawab sebagai hamba Tuhan. Sering sekali para pendeta tidak mendapatkan rasa nyaman dalam pelayanan. Membuat beberapa pendeta tidak lagi melayani dengan sepenuh hati, melayani hanya sebagai formalitas dan rutinitas saja. Hal ini dapat berdampak buruk bagi jemaat yang dilayani, yakni menurunnya kualitas rohani jemaat dan menurunnya antusias warga jemaat dalam bersekutu. Maka untuk menjawab persoalan ini, penulis menganalisis perspektif Paulus tentang panggilan dan tanggung jawab pelayanan melalui analisis konteks pada 2 Korintus 3:2-3. Karena 2 Korintus berisi pembelaan Paulus akan kerasulannya, sebab beberapa dari antara warga jemaat menggugat kerasulannya, mereka telah terprovokasi oleh rasul-rasul palsu yang datang ke Korintus. Sehingga mereka mulai meragukan dan mempertanyakan keaslian kerasulan Paulus, menuduh Paulus sebagai penyesat, licik dan penipu. Meskipun Paulus tersakiti oleh sikap warga jemaat terhadapnya, Paulus tetap setia dan tetap melayani jemaat Korintus dengan sepenuh hati. Paulus menegaskan jemaat Korintus adalah bukti kerasulannya yang tertulis dan tersimpan dalam hatinya. Paulus memahami kerasulannya merupakan anugerah kehendak Allah yang telah memanggil dan memilih dirinya. Baginya penderitaan dan pengorbanan dalam pelayanan merupakan sarana untuk mendemonstrasikan kehidupan Kristus, dan jemaat Korintus yang ia dirikan merupakan tanggung jawab yang telah dipercayakan Allah pada dirinya. Sehingga membuat Paulus tetap melayani dengan sepenuh hati meskipun tersakiti.</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/156 P Perempuan dan Kebebasan: Eksegese Yohanes 8:1-11 2024-05-11T10:34:05+07:00 Meliana Carolina Putri Waruwu mputri828@gmail.com <p><sup>Yesus tidak pernah memandang adanya hierarki di antara manusia, Ia tidak pernah memandang seseorang lebih rendah dibanding yang lain hanya kerena pekerjaan, pendidikan, status sosial bahkan gender. Yesus tidak pernah menganggap perempuan itu kelasnya di bawah laki-laki. Ia selalu berkata dalam kualitas yang sama terhadap semua orang (laki-laki dan perempuan), sebagai manusia yang bebas dan merdeka. Akan tetapi, Orang Kristen Nias, khususnya Nias Barat sudah sejak dahulu memiliki pandangan yang melemahkan daya aktualisasi diri perempuan. Kehidupan yang berjalan selalu mengutamakan laki-laki dan menjadikan perempuan sebagai pilihan kedua. Dari sisi adat bahkan agama, perempuan dipandang tidak memiliki kemampuan yang lebih dari laki-laki dan sering diperlakukan layaknya benda mati yang menjadi hak milik keluarga atau komunitas. Perempuan adalah sosok yang lemah secara fisik dan tidak bisa mengemban tanggung jawab dalam memimpin komunitas. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui cara pandang Yesus terhadap perempuan berdasarkan Yohanes 8:1-11 dan bagaimana pandangan ini menjadi teladan yang dapat membebaskan orang Kristen Nias Barat dari pandangan patriarki. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif melalui observasi dan wawancara, penulis menemukan bahwa masih ada orang Kristen Nias Barat yang memandang perempuan sebagai barang milik keluarga dan komunitas serta lebih rendah derajatnya dibanding laki-laki. Dengan demikian, paradigma Yesus dalam Yohanes 8:1-11 dapat membebaskan orang Kristen Nias Barat dari pandangan patriarki serta memberikan keberanian kepada perempuan untuk melawan segala keterikatan yang melemahkan dirinya sebagai seorang perempuan.</sup></p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/155 Menuju Keseimbangan Ekologis: Sebuah Analisis Teologi, Ekologi dan Ekonomi Terhadap Penimbunan Hutan Mangrove di Batam 2024-05-10T18:00:11+07:00 Ranti Marzuki ranti4612@gmail.com <p>Alam dan manusia merupakan ciptaan Allah yang saling berhubungan dalam kehidupan. Pemanfaatan alam oleh manusia seharusnya dilakukan secara bertanggung jawab. Akan tetapi, tindakan manusia tidak jarang bermuara kepada eksploitasi alam. Keadaan alam semakin memprihatinkan yang kemudian memberikan dampak yang besar bagi kehidupan manusia, khususnya di kota Batam. Tindakan manusia untuk memuaskan kepentingan pribadi membuat ekosistem mangrove, laut, masyarakat dan lingkungan menjadi korban. Tulisan ini menunjukkan bahwa kerusakan hutan mangrove terjadi karena adanya ketidakseimbangan hubungan antara ekologi dan ekonomi. Untuk mengkaji permasalahan ini, penulis menggunakan teori bioregionalisme-transaksionalisme dari Richard Evanoff, kewirausahan lestari oleh Yahya Wijaya dan beberapa pandangan lainnya yang mendukung penelitian ini untuk meneliti krisis ekologi yang terjadi di Batam. Sehingga melalui teori-teori ini kemudian dapat menjadi tawaran dalam menganalisis permasalahan ketedikseimbangan teologi, ekologi dan ekonomi di Batam. Tulisan ini juga sekilas melihat pada respon aktual gereja, khususnya Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) terhadap isu lingkungan di Batam.</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/154 Misi Inklusif Yunus Ke Niniwe: Hermeneutika Yunus 3: 1-10 Dalam Konteks Pluralisme Di Indonesia 2024-05-09T15:11:24+07:00 Magel Haens Sianipar sianiparmagel@gmail.com <p>This article aims to explain how inclusive mission is in the context of the Old Testament, specifically in Jonah's inclusive mission to Nineveh in Jon.3:1-10. This mission refers to a task or goal that involves all people or groups, regardless of background, social status, or race. In this text, the idea of mission includes the relationship between humans and God, as well as the roles and tasks carried out by prophets or groups in God's plan. Next, this article discusses the central ideas of mission, including God's decree, liberation and covenant, repentance, salvation, and conveying God's message. It is emphasized that mission was not only exclusive to Jews in the Old Testament, but was also inclusive of all people and cultures. This research was conducted using the Historical criticism method. The author first examines inclusive mission in the context of various stories in the Old Testament, including the story of Jonah which represents the rejection and then acceptance of God's inclusive mission to the Ninevites. Next, the author analyzes by paying attention to the text and context in depth so as to find a clear theological content of the text Jon.3:1-10. The text sees the need for a new approach to mission in the modern era marked by pluralism. Finally, the author discusses possible missiological tasks, including cultural and religious research, developing mission strategies, training and education, as well as coaching and mentoring specifically on diversity in Indonesia.</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/153 RE-INTERPRETASI INJIL DALAM KEMAJEMUKAN 2024-05-06T12:45:01+07:00 Rynaldi Mahardika Situmeang rynaldi.situmeang160402@gmail.com <p><em>This article aims to conduct a theological review of the text Psalm 137:1-9 from the perspective of the Gospel’s encounter with religious pluralism. In recent years, a new perception of a pluralistic environment has emerged, where pluralism is rapidly forming the character of a theology. Therefore, like it or not, a re-interpretation of the Bible is needed to minimize the friction that occurs in every encounter with pluralism. Therefore, the author will attempt to outline the conceptual idea of re-interpretation of the Gospel and confront it with the text of Psalm 137:1-9 using a missional hermeneutic approach. This article concludes that claiming that the Gospel is true for everyone is a forms of hubris. The Gospel must be allowed as one opinion among many others.</em></p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/152 Tantangan Orang Percaya Menghadapi Kekristenan Progresif: Jawaban Alkitabiah Dalam Mempertahankan Iman 2024-04-29T09:16:50+07:00 Aska Aprilano Pattinaja apattinaja@gmail.com <p>Kekristenan Progresif sementara menjadi pembahasan dan kajian banyak Hamba Tuhan dalam beberapa waktu terakhir ini. Perkembangannya semakin signifikan di mana ajarannya mulai diterima di Indonesia dan mengubah konsep kekristenan konservatif yang berdasarkan pemahaman Alkitabiah. Terlihat sama sebagai orang Kristen tetapi para penganut kepercayaan kekristenan progresif berdiri di atas fondasi iman yang berbeda. Penelitian ini dilakukan sebagai antitesis terhadap berbagai pengajaran Kekristenan progresif yang mencoba meredefenisi ulang iman kepercayaan mengenai keselamatan, dan Alkitab sebagai Firman Tuhan. Berdasarkan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, maka penelitian ini menemukan, <em>pertama, </em>keselamatan adalah anugerah Allah bukan karena perbuatan baik atau menjadi orang baik; <em>kedua, </em>keselamatan diperoleh karena mengaku dengan mulut dan percaya di dalam hati kepada Yesus Kristus; <em>ketiga, </em>Alkitab adalah Firman Allah, berasal dari Allah yang diilhamkan kepada Para Rasul. Penelitian ini menjadi peringatan bagi setiap orang percaya agar kembali meneliti nilai-nilai kebenaran Alkitabiah dan menolong mereka untuk tetap mempercayai Alkitab sebagai Injil Kebenaran dan menolak berbagai ajaran yang menyesatkan.</p> Copyright (c)