https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/issue/feed SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan 2021-09-16T15:02:31+07:00 Delipiter Lase jurnal@sttsundermann.ac.id Open Journal Systems https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/71 Memberitakan Injil, Diupah atau Tanpa Upah? 2021-09-12T11:45:40+07:00 masa yubelium gea masayubeliumgea@gmail.com <p>Membangun konsep yang benar tentang dasar panggilan memberitakan Injil pada hakikatnya sangat menentukan keberhasilan pelayanan yang dikerjakan. Jika Injil dilihat sebagai anugrah, maka tugas pemberitaan dianggap sebagai berkat dan kesukaan, tetapi jika dilihat sebagai pilihan maka pemberitaan akan ditentukan oleh situasi dan kondisi.Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana pendeta yang diurapi untuk melayani dapat melakukan pelayanannya dalam segala situasi dan kondisi yang mungkin saja terjadi.Hal ini nanti bertolak dari bagaimana mereka memahami panggilan mereka sebagai pemberita Injil. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode campuran. Pembahasan menunjukkan bahwa situasi dan kondisi jemaat pada dasarnya masih sangat mempengaruhi pelayanan yang dilakukan oleh pendeta. Semangat pelayan jadi surut ketika kondisi jemaat tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.Hal ini tentu bertolak belakang dengan kehidupan pelayanan Paulus yang telah mengalami banyak suka-duka dalam memberitakan Injil. Situasi dan kondisi jemaat yang ia layani sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk memberitakan Injil. Hal ini dikarenakan ia meliihat pemberitaan Injil itu sebagai anugrah dan Tuhan sendiri yang telah memilih dan memberikan tugas itu untuk dilaskanakan. Oleh karenanya, perlu membangun konsep yang benar tentang dasar panggilan dalam memberitakan Injil. Memberitakan Injil merupakan Anugrah, bukan pilihan.</p> <p>&nbsp;</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/68 Peran Pastoral Pendeta Dalam Implementasi Tertib Penggembalaan 2021-09-10T11:26:38+07:00 Fefi Warnifami Zega fefizega@gmail.com Alokasih Gulo okagulo@sttsundermann.ac.id <p>Pada prinsipnya pendeta punya tugas menurut peraturan BNKP. Salah satu tugas pendeta ialah melakukan kunjungan rumah serta pelayanan pribadi bagi warga jemaat yang mempunyai pergumulan khususnya warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan. Warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan mengalami tekanan-tekanan seperti tekanan fisik, mental, sosial dan spiritual, oleh sebab itu mereka membutuhkan pendampingan khusus dari pelayan Gereja. Namun realitas yang terjadi ialah bahwa para pendeta kurang melaksanakan tugas yaitu kunjungan rumah serta pelayanan pribadi bagi warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan. Oleh karena itu, ada dua yang menjadi tujuan penelitian ini ialah: 1. Untuk mengetahui pergumulan-pergumulan warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan. 2. Untuk mengetahui strategi Gereja dalam mendampingi warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan. sehingga adapun pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah 1. Warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan mempunyai pergumulan-pergumulan. 2. Gereja kurang mendampingi warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan. Untuk menjawab pergumulan-pergumulan warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan, pendeta harus bersedia mendampingi mereka dengan cara melakukan kunjungan rumah, atau mendampingi dengan cara pelayanan melalui telepon dan pelayanan melalui surat. Ketika pendeta atau gembala dalam jemaat melakukan cara ini, pergumulan warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan dapat teratasi. Namun, realitas yang terjadi di Jemaat BNKP Kota Gunungsitoli ialah, pendeta belum melaksanakan tugas pendampingan bagi warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan.</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/67 Perempuan dan Hak Waris 2021-09-16T15:02:31+07:00 Feniati Zebua feniatizebua96@gmail.com Alokasih Gulo okagulo@sttsundermann.ac.id <p>Artikel ini membahas tentang harta warisan yang merupakan harta benda yang dimiliki oleh ayah, kemudian akan diberikan kepada anak-anaknya secara turun-temurun. Masyarakat Nias menganut budaya patriarkat yakni anak laki-laki dominan dibanding dengan anak perempuan, baik dalam kemasyarakatan demikian dalam keluarga. hal itu berpengaruh dalam pembagian harta warisan. Seperti yang terjadi di masyarakat Sifalago Gomo yaitu adanya keluarga tidak memiliki keturunan laki-laki dan memiliki keturunan perempuan, maka warisan tidak diberikan kepada perempuan, melainkan diberikan kepada laki-laki dari saudara ayah, dengan alasan yaitu perempuan akan mendapatkan warisan dengan laki-laki yang menikahinya (suaminya) “hal itu tidak diterima oleh anak perempuan.” Alkitab juga memperlihatkan bahwa sistem kebudayaannya juga menganut sistem patriarkat, akan tetapi masih memberikan kesempatan kepada anak perempuan untuk mendapatkan warisan, seperti dalam Bilangan 27:1-11 tentang kisah anak Zelafehad yang menanyakan warisan atas nama ayah mereka, dan Allah memberikan hak kepada anak perempuan Zelafehad. dengan mengatakan bahwa anak perempuan berhak mendapatkan warisan. hal ini yang belum diketahui oleh masyarakat Sifalago, sebab laki-laki menurut kacamata mereka yaitu orang dapat berperang di zaman dahulu, sedangkan perempuan seorang yang lemah dan hanya dapat bekerja di dapur dan di ladang, sehingga tanah pun yang berhasil ditaklukkan dalam perang akan menjadi milik laki-laki tersebut, namun pada masa sekarang, tidak ada yang namanya perang, tidak ada yang namanya perebutan tanah, namun sekarang baik laki-laki dan perempuan sama-sama diperlukan. Ketika Allah menciptakan manusia, menurut gambar dan rupa Allah, sehingga tidak ada yang melebihi dari gambar Allah, semuanya sama, baik laki-laki maupun perempuan, sama di hadapan Allah.&nbsp;</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/66 Era Kebangkitan Kepemimpinan Pendeta Perempuan 2021-09-08T13:20:39+07:00 Otoriteit Dachi ritterdachi@sttsundermann.ac.id Vinna Isya Merti Manao vinnamanao18@gmail.com <p>Pada era ini kaum perempuan yang menjadi pemimpin sudah semakin meningkat di hampir semua aspek kehidupan manusia. Berdasarkan penelitian lapangan menunjukkan bahwa pendeta perempuan di BNKP telah mengalami pertumbuhan dan perkembangan jumlah bahkan banyak pendeta perempuan berada dalam posisi sebagai pemimpin.&nbsp; Namun, di tengah budaya Nias yang patriakhat pendeta perempuan mengalami berbagai tantangan baik dari dalam dirinya secara internal menyangkut kesiapan intelektual, emosional, dan mental maupun masalah di sekitar dirinya (eksternal), yaitu keadaan jemaat yang masih terbatas sumber daya dalam pelayanan, masih ada jemaat yang menolak kepemimpinan perempuan dan juga masalah sosial kemasyarakatan seperti adat istiadat yang membatasi hal-hal tertentu kepada perempuan dan masalah sistem patriakhat yang dianut masyarakat khususnya Nias. Sehubungan dengan itu, maka tulisan ini bertujuan untuk menggali sejauhmana pendeta perempuan BNKP mengembangkan potensi kepemimpinannya dalam Budaya Patriakhat dengan melihat tantangan dan peluang yang ada baik dari budaya dan dari perempuan itu sendiri. Selain itu, akan dipaparkan juga tentang gaya kepemimpinan perempuan untuk menjawab tantangan BNKP saat ini. Tulisan ini akan dibahas dengan menggunakan teori gender dengan pendekatan pada gaya kepemimpinan yang tranformasional-transaksional. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang mendeskriptif.</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/64 Bowo Wangowalu, Berkat atau Kutuk 2021-08-25T23:03:35+07:00 Intan Tri Kristiani Gulo intantrikristianigulo@gmail.com Tuhoni Telaumbanua tuhonitel@gmail.com <p><strong>ABSTRAK<br>Böwö (mas kawin) dalam adat istiadat Nias sangatlah penting dalam melangsungkan pesta pernikahan. Böwö memiliki arti yang sangat dalam yaitu cinta kasih (masi-masi), namun dalam sejarah, böwö ini mengalami pergeseran makna. Tidak lagi sebagai masimasi, tetapi menjadi gogoila atau böli gana’a. Dari hasil penelitian terungkap bahwa bowo telah mendatangkan masalah dalam keluarga yaitu terjadinya kemiskinan terhadap keluarga yang baru dibentuk, keluarga tidak harmonis, ada banyak perempuan yang enggan dinikahi oleh para pemuda dari daerah lain akibat nilai nominal böwö yang tinggi, melangsungkan pernikahan diluar Nias dan ada juga yang menikah dengan cara yang tidak baik (moloi). Dalam artikel ini dikemukakan tentang praktek pelaksanaan pesta perkawinan dan terutama sistem bowo dan dampaknya dalam kehidupan masyarakat Nias. Oleh karenanya, demi kehidupan yang harmoni, sejahtera, maka dibutuhkan transformasi baik pemahaman, maupun sistem dan tata cara bowo di Nias. Untuk mewujudkannya, maka dibutuhkan keterlibatan banyak pihak, terutama keluarga, penatua adat, gereja dan pemerintah. Sehingga adat sebagai identitas tetap lestari, tetapi mendatangkan berkat dalam kehidupan masyarakat.Kata kuncinya adalah böwö wangowalu, adat dan masyarakat.</strong></p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/62 Strategi Membangun Jemaat yang Kontekstual 2021-08-25T13:41:02+07:00 Jul Imantris Harefa julimantrisharefa@yahoo.com Yunelis Ndraha nendraha@gmail.com <p>Artikel ini membahas tentang strategi kontekstual membangun jemaat yang kontekstual. Gereja yang hidup dan berkarya harus dapat melakukan hal-hal yang sekiranya menjawab tugas panggilan gereja. Gereja menghadapi berbagai persoalan yang datang dari dalam dan luar dirinya. Banyak Jemaat dewasa ini menggumuli persoalan tentang tidak optimalnya pelaksanaan pelayanan. Penelitian ini menggunakan teori pembangunan jemaat untuk melihat permasalahan yang terjadi. Teori pembangunan jemaat yang digunakan bukan hanya menggambarkan ideal gereja dan persoalannya tetapi memberikan kontribusi apa yang harus dan tidak harus dilakukan oleh gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan angket kepada 15 keluarga. Penyebab tidak optimalnya pelaksanaan pelayanan di Jemaat sangat beragam dan gereja harus mengetahui hal tersebut dan sesegera mungkin menemukan strategi untuk membangun jemaat ke arah yang lebih baik. Membangun Jemaat dengan menggunakan pendekatan 5 faktor menjadikan jemaat sebagai gereja yang hidup dan berdaya karena berangkat dari persoalan-persoalan konkret gereja. Pendekatan lima faktor ini memiliki sasaran yang cukup jelas, yakni membangun jemaat yang kontekstual dengan kehidupan jemaat yang melaksanakan pelayanan secara berkualitas (internal dan eksternal gerejawi).</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/60 LOGIKA KESELAMATAN (Studi Eksegetis Roma 1:16-17 2021-08-30T11:04:22+07:00 Sukarata Madani Nazara sukaratanazara98@gmail.com <p>Injil adalah Kemenangan Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya sehingga membawa keselamatan bagi setiap orang percaya. Namun realitas yang ada justru Injil tidak dijadikan sebagai keselamatan. Ada banyak konsep keselamatan yang muncul di tengah kehidupan orang Kristen. Konsep-konsep ini disebutkan oleh penulis sebagai Kepelbagaian Pemahaman akan Keselamatan. Penyebabnya a.l : adanya kepelbagaian ajaran gereja, kesalahpahaman jemaat akan ajaran yang berbeda serta pengaruh-pengaruh yang menekankan pentingnya usaha untuk mencapai segala sesuatu. Kurangnya pemahaman jemaat akan makna Injil sebagai Kekuatan Allah yang menyelamatkan melainkan mendasarkan keselamatannya pada logika pembenaran akan pemahaman masing-masing. Tulisan ini bertujuan menjelaskan bagaimana Injil sebagai Keselamatan dapat dipahami secara logis, sehingga orang Kristen tidak lagi mendasarkan keselamatannya pada pemahamannya yang berbeda-beda. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode campuran. Pembahasan menunjukkan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus (Injil) menjadi kekuatan Allah yang memberi keselamatan. Melalui Injil setiap manusia dapat memperoleh keselamatan (keselamatan Jiwa dan juga keselamatan dari pemahaman-pemhaman yang ada). Injil adalah suatu bentuk Anugerah yang direspon dengan Iman. Serta melalui Injil Allah dipermuliakan dalam ciptaan-Nya. Oleh karena itu dirasa penting untuk menjelaskan Injil sebagai Keselamatan melalui konsep Hilasterion sehingga Injil sebagai keselamatan dapat dipahami secara logis.</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/58 Jangan Panggil Aku Naomi: Studi Eksegetis Rut 1:19-22 2021-08-25T09:32:57+07:00 Eklesia Philadelpia Daeli eklesia@sttsundermann.ac.id Soniman Zai sonimanzai25@gmail.com <p>Nats dari kitab Rut 1: 19-22 adalah sepenggal kisah seorang janda bernama Naomi yang pulang ke kampung halamannya membawa menantunya – Rut, yang juga adalah seorang janda – ke kota Betlehem. Kepulangan mereka mengejutkan orang di kampung dan membuat mereka bertanya-tanya tentang kondisi Naomi dan Rut.&nbsp; Kisah Naomi dan Rut ini juga memberikan inspirasi kepada para janda yang mengalami duka keputus-asaan dalam kehidupannya agar tetap bertahan menghadapi penderitaan yang mereka alami. Kajian teologis Rut 1:19-22 menceritakan tentang Naomi yang menganggap bahwa Allahlah yang memberikan penderitaan dan duka dalam kehidupannya, sehingga keputus-asaan dan kesedihan yang selalu ia rasakan saat pulang ke kampung halamannya. Ia hanya mengharapkan belas kasihan sanak familinya untuk menjalani hidupnya bersama menantunya – Rut. Dari penelitian lapangan terhadap para janda di salah satu gereja BNKP Jemaat Marao – Nias, ditemukan banyak janda yang mengalami hal yang sama seperti yang di alami oleh Naomi dan Rut. Dan tulisan ini dapat menjadi saran bagaimana mengimplikasikan kehidupan Naomi yang penuh penderitaan namun bertahan dan berpengharapan pada Tuhan di tengah keputusasaan.</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/51 Studi Kritis Terhadap Program Renewal Life di Jemaat GBI El Shaddai, Pontianak 2021-07-19T15:14:04+07:00 Anggi Maringan Hasiholan anggimaringan.mia2@gmail.com <p>Setelah percaya kepada Yesus, orang percaya dituntut untuk hidup dalam kedewasaan dari hari ke hari. Identitas ini mendorong pribadi lepas pribadi mengalami perubahan hidup dalam segala bidang. Untuk mencapai tujuan itu, Tuhan memberikan tugas kepada gereja agar dapat secara kreatif membuat program-program yang dapat mencapai tujuan kedewasaan jemaat. Mulai dari dari kelompok sel, mezbah keluarga, sampai <em>Renewal Life. </em>Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan konsep pembinaan iman rohani jemaat GBI El Shaddai Pontianak lewat program <em>Renewal Life, </em>sehingga peserta mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus Kristus secara pribadi dan mengalami kedewasaan rohani. Bagaimana kehidupan kerohanian jemaat GBI El Shaddai setelah mengikuti program <em>“Renewal Life”</em>? Bagaimana mengatasi kekurangan dalam program <em>“Renewal Life”</em>? Bagaimana dampak program <em>“Renewal Life</em>” terhadap kedewasaan rohani Jemaat? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptip dengan peneliti adalah bagian dari subjek yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jemaat yang setelah mengikuti program <em>Renewal Life</em> memiliki pola pikir, cara pandang yang berbeda baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Sehingga mudah mengalami pertumbuhan dalam kedewasaan Kerohanian. Selanjutnya, jemaat memiliki kesadaran tersendiri untuk mau terlibat, ambil bagian dalam pelayanan di gereja tanpa harus di dorong, dipaksa oleh pemimpin rohani untuk melayani. Terakhir, jemaat memiliki kesadaran untuk mau bertumbuh dalam kedewasaan kerohaniaannya sehingga mau tergabung dalam suatu wadah komunitas pemuridan. Sehingga lebih lagi mengalami pertumbuhandan kedewasaan kerohanian</p> Copyright (c) https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/50 Upaya Orang Tua Menumbuhkan Minat Baca Anak pada Alkitab 2021-07-19T10:36:40+07:00 Libertina Hulu libertinahulu2@gmail.com Delipiter Lase piterlase@sttsundermann.ac.id Amurisi Ndraha muris.ndraha@sttsundermann.ac.id <p>Mengajarkan Alkitab secara kreatif kepada anak-anak sejak usia dini akan menolong mereka untuk memahami hal yang utama tentang kehidupan, menguatkan mereka menghadapi dan mengatasi tantangan serta mengajari anak untuk menjalani kehidupan yang tidak didominasi oleh dosa. Karena itu, orang tua berkewajiban untuk menumbuhkan minat baca anak terhadap Alkitab sejak dini, karena orang tua adalah orang yang terdekat pertama bagi anak. Artikel ini bertujuan untuk menyelidiki bagaimana minat baca anak terhadap Alkitab, mencari tahu faktor penyebab serta pada bagian akhir pembahasan, penulis memaparkan upaya dan strategi orang tua menumbuhkan minat baca anak terhadap Alkitab. Penelitian dikembangkan dengan menggunakan metode kualitatif. Sumber data dan informan berjumlah 14 orang terdiri dari orang tua dan anak usia 6-12 tahun; ditentukan dengan teknik <em>purposive sampling</em>. Data diambil berdasarkan observasi dan wawancara, serta data yang telah diperoleh dianalisis dengan teknik analisis tematik. Temuan penelitian menujukkan bahwa minat baca anak terhadap Alkitab masih sangat rendah; setiap sepuluh orang anak usia sekolah dasar terdapat tidak lebih dari tiga orang yang gemar (memiliki minat) membaca Alkitab. Penyebab rendahnya minat baca anak terhadap Alkitab diklasifikasi ke dalam empat faktor, yakni lingkungan keluarga, sarana dan fasilitas bacaan, perkembangan teknologi, literasi baca tulis dan pola asuh orang tua. Pada bagian akhir artikel, penulis menyarankan beberapa upaya yang dapat diterapkan oleh orang tua untuk menumbuhkan minat baca anak terhadap Alkitab, di antaranya menyediakan bahan bacaan Alkitab yang beragam, mengatur waktu ibadah dalam keluarga, membatasi kegiatan anak untuk menonton dan bermain secara berlebihan, serta menjadikan waktu renungan sebagai kebiasaan.</p> 2021-08-26T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Libertina Hulu, Delipiter Lase, Amurisi Ndraha