SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann STT BNKP Sundermann en-US SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan 1979-3588 <p>Authors who publish with Sundermann Journal agree with the following requirements:</p> <ol> <li>The author retains the copyright and provides the Sundermann Journal with the right of the first publication with the paper simultaneously licensed under the <a href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/">Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License</a> that allows others to freely share and quote this work with the recognition of authorship of the author's work and initial publications in Sundermann Journal.</li> <li>Authors are permitted to distribute versions published in this journal (for example posting to institutional repositories or publishing them in a book), recognizing initial publications in Sundermann Journal.</li> </ol> Makna Simbol Lilin dan Alkitab dalam Pemberian Belis pada Acara Adat Pernikahan Orang Rote di Kota Kupang https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/163 <p><em>Belis</em> adalah salah satu tradisi adat pernikahan yang dimiliki masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Dalam tradisi pernikahan orang Rote sebelum melangsungkan pernikahan secara sah (pemberkatan), biasanya ada acara adat atau disebut dengan “peminangan.” Dalam “pinangan” pihak laki-laki membawa keluarganya dan beberapa dulang yang menjadi seserahan kepada pihak wanita. Dulang-dulang tersebut salah satunya berisi lilin atau pelita dan Alkitab. Tujuan penulisan adalah hendak mengargumentasikan peran dan makna dalam simbol lilin atau lampu dan Alkitab, maksud simbol lilin atau lampu dan Alkitab yang ditempatkan pada dulang pertama. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, teknik pengumpulan melalui observasi, wawancara dan studi pustaka/literatur. Teori yang digunakan dari Victor Turner, Kent V. Flannery dan Joice Marcus, George Herbert Mead dan Herbert Blumer, dan Jeffrey Alexander. Dari beberapa tokoh, memiliki perspektif bahwa benda-benda material budaya seperti lilin atau pelita dan Alkitab bukanlah benda biasa yang diabaikan atau dijadikan pajangan saja, namun memiliki makna yang mendalam. Simbol lilin atau pelita dan Alkitab menciptakan makna yang dapat menggerakkan adanya interaksi sosial antara individu maupun kelompok, yakni mempertemukan keluarga yang satu dengan yang lain, ras, suku, dan etnis.&nbsp; Simbol tersebut jika dianalisis menggunakan hermeneutik sosial, maka maknanya sebagai penerang, membuka jalan baru, dan fondasi dalam membangun rumah tangga.</p> Justine Saudale Izak Lattu Tony Tampake Copyright (c) 16 2 PEMBUNUHAN BERENCANA DILAKUKAN OLEH REMAJA TERHADAP ANAK SMA DIKAJI MENGGUNAKAN TEOLOGI DAN HAM https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/162 <p><em>The crime of premeditated murder committed by teenagers does not just happen. There are factors that led to the murder. This research aims to describe the phenomenon of premeditated murder crimes committed by teenagers as well as provide input for churches, government and families. This type of research is included in the type of empirical research. Empirical legal research is research that attempts to identify criminal law to find out other symptoms that exist in the field. The results of the research illustrate that no action has been taken by the community or the church to provide justice for the victims.</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> Sumeriani Tsu Copyright (c) 16 2 Pemeliharaan Allah Dalam Konteks Bencana Alam https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/161 <p>Bencana alam merupakan peristiwa yang tidak seorangpun dapat mengetahui kapan akan terjadi, tidak seorang pula menghendaki agar hidupnya mengalami suatu musibah atau bencana alam. Namun tidak seorangpun juga dapat menolaknya jika hal itu terjadi dalam kehidupan kita. Bencana alam sering dianggap sebagai ungkapan marah Tuhan kepada umat manusia, juga dianggap sebagai perbuatan manusia yang menolak atau tidak melakukan perintah Tuhan. Oleh karena itu Isu lingkungan menjadi topik yang hangat dibicarakan pada abad ke-21 ini. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa dunia ini akan hancur oleh dua penyebab yaitu perang nuklir dan kerusakan lingkungan. Isu lingkungan sebenarnya bukanlah isu yang baru, namun karena dampaknya sudah mulai terasa secara global, dunia baru mulai bersuara. Dalam iman Kristen, Kitab Suci sendiri banyak menyinggung soal permasalahan lingkungan bahkan sejak manusia pertama diciptakan. Pemeliharaan lingkungan menjadi tanggung jawab yang besar bagi orang Kristen karena itu lahir dari konsep teologi Kristen mengenai penciptaan dan mandat penatalayanan yang Allah percayakan bagi manusia. Maka kita akan melihat bahwa pemeliharaan Allah bagi umatnya akan tetap berlangsung meskipun Tuhan mengijinkan terjadinya bencana alam dalam kehidupan umat manusia.</p> jonson marpaung Copyright (c) 16 2 MNG Jepin Dance as a cultural event of Pontianak City birthday celebration https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/160 <p>Art culture can be defined as a skill in activities that express aesthetic ideas and thoughts, as well as realize the ability and imagination of views on some objects, works, or atmosphere that can heed and create a more advanced human civilization. The arts can be defined as a skill in activities that express aesthetic ideas and thoughts, and embody the ability and imagination of the view of some movements, works, or atmosphere that can heed and create a more advanced human civilization. The arts include various forms of artistic expression, such as visual arts, music, theater arts, literary arts, and dance, all of which have the aim of expressing values of beauty and nobleness through various media branches of art. Art in dance can be defined as a form of expression that combines body movements with music, performed in a certain place and time to express feelings, intentions, or thoughts. Dance uses three main elements, namely the element of raga (body movement), the element of rhythm (music), and the element of rasa (feeling), to create an expression of the human soul that can bring charm. In this definition, dance is considered as a medium to express feelings and emotions through beautiful and rhythmic body movements, accompanied by appropriate music.</p> Naufal Ghazy Copyright (c) 16 2 Metode Kontekstualisasi Arat Sabulungan Sebagai Pendekatan Pemberitaan Injil Berdasarkan 1 Korintus 9:19-22 https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/159 <p>This article aims to find a method of evangelism that is<br>contextualized within a particular culture, specifically the Arat<br>Sabulungan belief from Mentawai. This belief emphasizes the<br>balance between nature and humans and uses leaves in ritual<br>ceremonies to connect humans with God or Ulau Manua. The<br>existence of some similar values and principles between the<br>Arat Sabulungan belief and the Gospel makes there a little gap<br>for the Gospel to enter through this culture. The methods used<br>in this research are literature study and biblical studies.<br>Biblical studies are obtained from the study of the<br>interpretation of the text of 1 Corinthians 9:19-22 using<br>grammatical and historical lenses. This research will begin<br>with a discussion of the Arat Sabulungan culture, then<br>continue with a biblical study of the text of 1 Corinthians<br>9:19-22. In the last section, the researcher will present the<br>results of the biblical study and its relevance for contextual<br>evangelism methods. In this context, evangelism should be<br>done cross-culturally, as Paul did in his missionary journeys.<br>Paul's evangelistic strategy in 1 Corinthians 9:19-22<br>emphasizes adjusting to the local culture without losing the<br>principles taught by the Lord Jesus. This contextualization<br>method aims to deliver the gospel in a way that is relevant<br>and effective for the Mentawai people, while still respecting<br>and maintaining their cultural elements that do not contradict<br>the principles of the gospel.</p> Isaac Copyright (c) 16 2 R Reinterpretasi terhadap Narasi Yohanes 7:53;8:1-11 Menurut Lensa Feminisme https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/158 <p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk membangun konsep kesetaraan gender melalui interpretasi perempuan dalam Injil Yohanes 7:53; 8:1-11 dalam konteks perempuan pelacur, dengan menggunakan lensa feminisme. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis teks berbasis feminisme, dengan mengidentifikasi aspek-aspek yang relevan dengan perempuan pelacur dan menganalisis konteks sosial dan agama pada masa itu. Hasil temuan menunjukkan bahwa interpretasi feminis terhadap perempuan pelacur dalam teks tersebut dapat memberikan kontribusi signifikan dalam memperluas pemahaman tentang peran perempuan dalam konteks agama dan mendorong kesetaraan gender. Melalui pendekatan ini, perempuan pelacur diberikan suara dan diangkat ke dalam narasi agama, memperlihatkan pengalaman mereka yang sering kali diabaikan atau dianggap negatif. Kajian ini menunjukkan bahwa perempuan pelacur tidak hanya dipandang sebagai objek atau simbol dosa, tetapi juga sebagai individu dengan kekuatan dan potensi transformasional. Hasil penelitian ini mendorong pemahaman yang lebih inklusif dan memperkuat gerakan kesetaraan gender dalam konteks agama. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa interpretasi feminis terhadap perempuan pelacur dalam Injil Yohanes 7:53; 8:1-11 dapat membantu membangun konsep kesetaraan gender yang lebih inklusif dan mengatasi stereotip serta diskriminasi terhadap perempuan. Penelitian ini memberikan pemahaman baru tentang peran perempuan dalam agama dan mendorong adanya tindakan yang lebih progresif dan inklusif dalam mencapai kesetaraan gender.</span></p> <p>&nbsp;</p> darihati Zega Copyright (c) 16 2 P Melayani dengan Sepenuh hati berdasarkan 2 Korintus 3:2-3 https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/157 <p>Artikel ini ditulis untuk membantu para pendeta memahami panggilan dan tanggung jawab sebagai hamba Tuhan. Sering sekali para pendeta tidak mendapatkan rasa nyaman dalam pelayanan. Membuat beberapa pendeta tidak lagi melayani dengan sepenuh hati, melayani hanya sebagai formalitas dan rutinitas saja. Hal ini dapat berdampak buruk bagi jemaat yang dilayani, yakni menurunnya kualitas rohani jemaat dan menurunnya antusias warga jemaat dalam bersekutu. Maka untuk menjawab persoalan ini, penulis menganalisis perspektif Paulus tentang panggilan dan tanggung jawab pelayanan melalui analisis konteks pada 2 Korintus 3:2-3. Karena 2 Korintus berisi pembelaan Paulus akan kerasulannya, sebab beberapa dari antara warga jemaat menggugat kerasulannya, mereka telah terprovokasi oleh rasul-rasul palsu yang datang ke Korintus. Sehingga mereka mulai meragukan dan mempertanyakan keaslian kerasulan Paulus, menuduh Paulus sebagai penyesat, licik dan penipu. Meskipun Paulus tersakiti oleh sikap warga jemaat terhadapnya, Paulus tetap setia dan tetap melayani jemaat Korintus dengan sepenuh hati. Paulus menegaskan jemaat Korintus adalah bukti kerasulannya yang tertulis dan tersimpan dalam hatinya. Paulus memahami kerasulannya merupakan anugerah kehendak Allah yang telah memanggil dan memilih dirinya. Baginya penderitaan dan pengorbanan dalam pelayanan merupakan sarana untuk mendemonstrasikan kehidupan Kristus, dan jemaat Korintus yang ia dirikan merupakan tanggung jawab yang telah dipercayakan Allah pada dirinya. Sehingga membuat Paulus tetap melayani dengan sepenuh hati meskipun tersakiti.</p> Berkat Oktafianus Waruwu Copyright (c) 16 2 P Perempuan dan Kebebasan: Eksegese Yohanes 8:1-11 https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/156 <p><sup>Yesus tidak pernah memandang adanya hierarki di antara manusia, Ia tidak pernah memandang seseorang lebih rendah dibanding yang lain hanya kerena pekerjaan, pendidikan, status sosial bahkan gender. Yesus tidak pernah menganggap perempuan itu kelasnya di bawah laki-laki. Ia selalu berkata dalam kualitas yang sama terhadap semua orang (laki-laki dan perempuan), sebagai manusia yang bebas dan merdeka. Akan tetapi, Orang Kristen Nias, khususnya Nias Barat sudah sejak dahulu memiliki pandangan yang melemahkan daya aktualisasi diri perempuan. Kehidupan yang berjalan selalu mengutamakan laki-laki dan menjadikan perempuan sebagai pilihan kedua. Dari sisi adat bahkan agama, perempuan dipandang tidak memiliki kemampuan yang lebih dari laki-laki dan sering diperlakukan layaknya benda mati yang menjadi hak milik keluarga atau komunitas. Perempuan adalah sosok yang lemah secara fisik dan tidak bisa mengemban tanggung jawab dalam memimpin komunitas. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui cara pandang Yesus terhadap perempuan berdasarkan Yohanes 8:1-11 dan bagaimana pandangan ini menjadi teladan yang dapat membebaskan orang Kristen Nias Barat dari pandangan patriarki. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif melalui observasi dan wawancara, penulis menemukan bahwa masih ada orang Kristen Nias Barat yang memandang perempuan sebagai barang milik keluarga dan komunitas serta lebih rendah derajatnya dibanding laki-laki. Dengan demikian, paradigma Yesus dalam Yohanes 8:1-11 dapat membebaskan orang Kristen Nias Barat dari pandangan patriarki serta memberikan keberanian kepada perempuan untuk melawan segala keterikatan yang melemahkan dirinya sebagai seorang perempuan.</sup></p> Meliana Carolina Putri Waruwu Copyright (c) 16 2 Menuju Keseimbangan Ekologis: Sebuah Analisis Teologi, Ekologi dan Ekonomi Terhadap Penimbunan Hutan Mangrove di Batam https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/155 <p>Alam dan manusia merupakan ciptaan Allah yang saling berhubungan dalam kehidupan. Pemanfaatan alam oleh manusia seharusnya dilakukan secara bertanggung jawab. Akan tetapi, tindakan manusia tidak jarang bermuara kepada eksploitasi alam. Keadaan alam semakin memprihatinkan yang kemudian memberikan dampak yang besar bagi kehidupan manusia, khususnya di kota Batam. Tindakan manusia untuk memuaskan kepentingan pribadi membuat ekosistem mangrove, laut, masyarakat dan lingkungan menjadi korban. Tulisan ini menunjukkan bahwa kerusakan hutan mangrove terjadi karena adanya ketidakseimbangan hubungan antara ekologi dan ekonomi. Untuk mengkaji permasalahan ini, penulis menggunakan teori bioregionalisme-transaksionalisme dari Richard Evanoff, kewirausahan lestari oleh Yahya Wijaya dan beberapa pandangan lainnya yang mendukung penelitian ini untuk meneliti krisis ekologi yang terjadi di Batam. Sehingga melalui teori-teori ini kemudian dapat menjadi tawaran dalam menganalisis permasalahan ketedikseimbangan teologi, ekologi dan ekonomi di Batam. Tulisan ini juga sekilas melihat pada respon aktual gereja, khususnya Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) terhadap isu lingkungan di Batam.</p> Ranti Marzuki Copyright (c) 16 2 Misi Inklusif Yunus Ke Niniwe: Hermeneutika Yunus 3: 1-10 Dalam Konteks Pluralisme Di Indonesia https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/154 <p>This article aims to explain how inclusive mission is in the context of the Old Testament, specifically in Jonah's inclusive mission to Nineveh in Jon.3:1-10. This mission refers to a task or goal that involves all people or groups, regardless of background, social status, or race. In this text, the idea of mission includes the relationship between humans and God, as well as the roles and tasks carried out by prophets or groups in God's plan. Next, this article discusses the central ideas of mission, including God's decree, liberation and covenant, repentance, salvation, and conveying God's message. It is emphasized that mission was not only exclusive to Jews in the Old Testament, but was also inclusive of all people and cultures. This research was conducted using the Historical criticism method. The author first examines inclusive mission in the context of various stories in the Old Testament, including the story of Jonah which represents the rejection and then acceptance of God's inclusive mission to the Ninevites. Next, the author analyzes by paying attention to the text and context in depth so as to find a clear theological content of the text Jon.3:1-10. The text sees the need for a new approach to mission in the modern era marked by pluralism. Finally, the author discusses possible missiological tasks, including cultural and religious research, developing mission strategies, training and education, as well as coaching and mentoring specifically on diversity in Indonesia.</p> Magel Haens Sianipar Copyright (c) 16 2