SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann STT BNKP Sundermann en-US SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora dan Kebudayaan 1979-3588 <p>Authors who publish with Sundermann Journal agree with the following requirements:</p> <ol> <li>The author retains the copyright and provides the Sundermann Journal with the right of the first publication with the paper simultaneously licensed under the <a href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/">Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License</a> that allows others to freely share and quote this work with the recognition of authorship of the author's work and initial publications in Sundermann Journal.</li> <li>Authors are permitted to distribute versions published in this journal (for example posting to institutional repositories or publishing them in a book), recognizing initial publications in Sundermann Journal.</li> </ol> Mendidik Anak di Era Digital https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/77 <p>Artikel&nbsp; ini membahas tentang bagaimana mendidik anak di era digital. Adapun yang menjadi tujuan penelitian atau penyusunan artikel ini adalah: 1. Untuk mengetahui arti era digital, 2. Untuk mengetahui dampak-dampak era digital terhadap orang tua dalam mendidik anak usia 6-12 tahun, 3. Untuk mengetahui bagaimana peran orang tua mendidik&nbsp; anak di era digital. Penelitian ini dilaksanakan di desa Mazingo Tanoseo (Hiliworia) dusun I Kec. Hiliduho. Pemilihan lokasi penelitian ini, dilatar belakangi oleh karena desa penulis sendiri dan di desa penulis ada masalah berdasarkan pengamatan penulis karena berada di lokasi penelitian, tentang anak-anak di era digital yang yang susah untuk di didik oleh orangtua yang terlebih dahulu membiarkan, memanjakan dan memberikan teladan serta contoh yang kurang baik kepada anak seperti membiarkan anak menggunakan HP sendiri, dan mengikuti kemauan anak. Jumlah warga desa Mazingo Tanoseo (Hiliworia) dusun I, sebanyak 93 KK 340 Jiwa. Namun, dalam penelitian ini sebagai sumber data adalah sebagian orang tua anak usia 6-12 tahun, karena mereka memiliki anak. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode deskripstif kualitatif dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi.</p> <p>Kata Kunci : <em>Mendidik anak, orangtua dan era digital</em></p> Mujur Kasih Telaumbanua Copyright (c) 14 2 Peran Keluarga Terhadap Pergumulan Warga Berusia Lanjut https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/76 <p>Pandangan akan kehidupan hari tua ialah sebuah masalah besar bagi setiap orang karena mereka akan berubah secara fisik, pikiran, dan juga produktivitas (penghasilan). Dengan menyadari hal tersebut maka yang harus dilakukan ialah membangun perspektif yang tepat mengenai hidup sebagai proses pendampingan terus-menerus yang akan menuju kepada kekekalan. Setiap tahap kehidupan merupakan persiapan menuju perspektif kekekalan itu. Usia lanjut pun harus memainkan peran dalam proses pematangan terhadap menuju masa yang kekal-abadi. Pendampingan pastoral bagi lanjut usia mempersiapkan dan mengarahkan mereka sebagai kaum lanjut usia. Untuk itu perlu ada pengenalan karakter mereka dan pendampingan khusus bagi sisi spiritual hidup mereka. pendampingan pastoral bagi lanjut usia merupakan bentuk penghargaan terhadap citra Allah dalam diri mereka. harapannya adalah setiap lanjut usia dapat tetap diterima oleh keluarga, sahabat-sahabat atau umat kristiani, supaya mereka masih merasakan perwujudan&nbsp; kasih Allah secara nyata dalam diri sesama, sebab di mata dunia mungkin mereka sudah tidak produktif lagi, namun di mata Allah dan gereja mereka tetaplah ciptaan Tuhan yang penuh kasih. Terlebih bagi setiap warga yang telah berusia lanjut di BNKP Jemaat Saewahili resor 7 Gomo, agar mereka tetap di dampingi serta di kuatkan selama masa tuanya. Akan ada pertolongan yang ajaib bagi setiap pergumulan dalam setiap diri ciptaan Tuhan.</p> Natal Pasrah Lase Copyright (c) 14 2 Famat?r? T?i Nono Nihal? dalam Budaya Nias https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/75 <p><em>Famat</em><em>?</em><em>r</em><em>?</em><em> t</em><em>?</em><em>i nono nihal</em><em>?</em> merupakan salah satu adat Nias yang sering dilakukan ketika seorang perempuan menikah. Orang Nias sering menyebut pemberian nama pengantin perempuan yaitu <em>famat</em><em>?</em><em>r</em><em>?</em><em> t</em><em>?</em><em>i nono nihal</em><em>?</em> artinya pemberian nama baru kepada seorang perempuan yang menikah sebagai suatu kehormatan, sebagai perubahan status dari sang gadis menjadi seorang istri, sekaligus pengganti nama aslinya waktu masih gadis seperti Laso<em> Balaki </em>artinya penahan, Netral<em> Barasi</em> artinya tidak pilih kasih, Lina <em>Sa’us</em><em>?</em> artinya sinar atau cahaya, dan lain sebagainya. Pemberian nama pengantin perempuan tergantung kedudukan orang tua dalam adat.&nbsp;Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif secara deskriptif dengan melakukan observasi serta wawancara kepada masyarakat desa yaitu Kepala Desa, tokoh-tokoh adat, tokoh-tokoh masyarakat, pelayan Gereja dan istri-istri yang sudah mendapat maupun belum mendapatkan nama baru. Dari hasil penelitian penulis sendiri bahwa ada beberapa desa di Nias yang tidak lagi melaksanakan <em>f</em><em>amat?r? t?i nono nihal?. </em>Hal ini terjadi karena dalam pelaksanaan <em>famat</em><em>?r? t?i nono nihal? </em>mengeluarkan pembiayaan yang cukup besar. Selain itu, pemahaman masyarakat juga masih kurang. Adat <em>famat</em><em>?r? t?i nono nihal? </em>menjadi sulit untuk tetap dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat Nias.</p> Senangi Telaumbanua Copyright (c) 14 2 Nazar dalam Pengkhotbah 5:1-6 dan Relevansinya bagi Warga Jemaat https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/74 <p>Nazar adalah sebuah janji yang keluar dari mulut dan berasal dari hati, dan itu dilakukan secara sukarela tanpa perintah dari Tuhan. Nazar bisa dilakukan oleh semua orang karena nazar bersifat universal (tidak memandang agama, suku, perbuatan baik dan jahat) tetapi jika nazar sudah dilakukan maka hidup harus suci di hadapan Tuhan, sebab nazar bagi Tuhan adalah kudus sehingga orang yang bernazar harus kudus juga di hadapan Tuhan. Bernazar atau tidak bernazar bukanlah dosa, yang berdosa ialah bernazar namun tidak menepatinya. Persoalan nazar ini telah terjadi di Jemaat BNKP Hilimaenamolo Resort 10. Untuk mengetahui permasalahannya maka penulis melakukan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dilakukan melalui perencanaan, masuk lapangan. Hasil dari penelitian ialah warga jemaat bernazar kepada Tuhan saat mereka dalam keadaan sakit dan sulit. Warga jemaat melakukan nazar namun pengetahuan mereka tentang nazar masih minim. Warga jemaat hanya tahu bahwa mereka bernazar kepada Tuhan bukan kepada manusia. Sebagian warga jemaat juga berpikir bahwa nazar yang dilakukan boleh saja tidak ditepati karena Tuhan Maha pengasih dan Tuhan telah mati dikayu salib demi menebus dosa-dosa manusia. Kematian-Nya dikayu salib membuat warga jemaat berpikir bahwa Tuhan akan mengasihi umat-Nya yang tidak menepati nazar kepada-Nya. Kesimpulan di atas ialah bahwa orang yang bernazar dan menunda atau tidak menepatinya ialah dosa (Pengkhotbah 5:3-5).</p> Serwinda Gee Copyright (c) 14 2 Peran Guru PAK Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Spiritual Kristen Pada Anak https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/73 <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; This article describes the role of Christian Religious Education teachers in instiling christian spiritual values in children at school. Christian spiritual is one component that greatly influences the development of children’s lives at school. Instilling christian spiritual values in children from an early age is very important and highly recommended so that children can place themselves in good values in their lives. The role of Christian Religious Education teachers in instilling christian spiritual values in children is very much needed because that is what can accompany and direct children to live in fellowship with God. Thus, in this article the author would like to describe the purpose of the study to determine the role of Christian Religious Education teahers in instilling christian spiritual values in children at school. In this article, the author also wants to describe the research methods used by the author in obtaining research methods. In this article, the author also wants to describe the population abd the sample used, including the population in this study is the environment of children at school, and the sample is Christian Religious Education teachers. In this article, the author also wants to explain about the data collection techniques carried out, and in this case to present the data the author uses data collecton techniques more to qualitative research where data is presented in narrative form. </p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> <p><strong>Kata Kunci: <em>Peran Guru PAK, Nilai-Nilai Spiritual Kristen, Anak.</em></strong></p> esterdaniatinazara esternazara Copyright (c) 14 2 Memberitakan Injil, dengan atau Tanpa Upah? Studi Eksegetis 1 Korintus 9:1-23 https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/71 <p>Membangun konsep dasar yang benar tentang panggilan memberitakan Injil pada hakikatnya sangat menentukan keberhasilan pelayanan yang diemban. Jika pemberitaan Injil dilihat sebagai anugerah, maka tugas itu merupakan berkat dan kesukaan, tetapi jika dilihat sebagai pilihan maka tugas pemberitaan akan ditentukan oleh situasi dan kondisi. Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana pendeta di BNKP yang diurapi untuk melayani dapat melakukan pelayanannya dalam segala situasi dan kondisi yang mungkin terjadi. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan dan biblika (eksegesis). Hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa situasi dan kondisi jemaat terkini turut memengaruhi pelayanan yang dilakukan oleh pendeta. Kesungguhan dan komitmen pendeta mengalami pasang surut ketika kondisi jemaat tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ini bertolak belakang dengan pelayanan Paulus yang mengalami banyak suka-duka dalam memberitakan Injil. Situasi dan kondisi jemaat yang ia layani sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk memberitakan Injil. Hal itu disebabkan oleh pemahamannya terhadap pemberitaan Injil adalah anugerah dan Tuhan sendiri yang memilih dan memberikan tugas itu untuk dilaksanakan. Karena itu, para pendeta perlu menanamkan konsep yang benar tentang dasar panggilan dalam memberitakan Injil; memberitakan Injil merupakan anugerah, bukan pilihan.</p> Masa Yubelium Gea Copyright (c) 2021 Masa Yubelium Gea https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2021-11-18 2021-11-18 14 2 55 66 10.36588/sundermann.v14i2.71 Pendampingan Pastoral bagi Warga Jemaat yang Dikenakan Tertib Penggembalaan https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/68 <p>Salah satu tugas pendeta sesuai dengan Peraturan BNKP ialah melakukan kunjungan rumah serta pelayanan pribadi bagi warga jemaat yang memiliki pergumulan, khususnya warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan. Warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan mengalami tekanan-tekanan seperti tekanan fisik, mental, sosial dan spiritual. Mereka membutuhkan pendampingan khusus dari pelayan gereja. Namun realitas, para pendeta belum melaksanakan tugas ini yakni perkunjungan serta pelayanan pribadi bagi warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pergumulan warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan, dan bagaimana gereja melakukan pendampingan bagi mereka. Penelitian ini dilaksanakan di Jemaat BNKP Kota Gunungsitoli dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan memiliki pergumulan-pergumulan dalam hal fisik, mental, sosial dan spiritual. Kedua, gereja belum mendampingi warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan secara optimal. Untuk merespon pergumulan warga jemaat yang dikenakan tertib penggembalaan ini, pelayan utamanya pendeta di jemaat harus mendampingi mereka dengan melakukan perkunjungan dan pelayanan pribadi.</p> Fefi Warnifami Zega Copyright (c) 2021 Fefi Warnifami Zega https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2021-10-31 2021-10-31 14 2 48 54 10.36588/sundermann.v14i1.68 Perempuan dan Hak Waris https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/67 <p>Artikel ini membahas tentang harta warisan yang merupakan harta benda yang dimiliki oleh ayah, kemudian akan diberikan kepada anak-anaknya secara turun-temurun. Masyarakat Nias menganut budaya patriarkat yakni anak laki-laki dominan dibanding dengan anak perempuan, baik dalam kemasyarakatan demikian dalam keluarga. hal itu berpengaruh dalam pembagian harta warisan. Seperti yang terjadi di masyarakat Sifalago Gomo yaitu adanya keluarga tidak memiliki keturunan laki-laki dan memiliki keturunan perempuan, maka warisan tidak diberikan kepada perempuan, melainkan diberikan kepada laki-laki dari saudara ayah, dengan alasan yaitu perempuan akan mendapatkan warisan dengan laki-laki yang menikahinya (suaminya) “hal itu tidak diterima oleh anak perempuan.” Alkitab juga memperlihatkan bahwa sistem kebudayaannya juga menganut sistem patriarkat, akan tetapi masih memberikan kesempatan kepada anak perempuan untuk mendapatkan warisan, seperti dalam Bilangan 27:1-11 tentang kisah anak Zelafehad yang menanyakan warisan atas nama ayah mereka, dan Allah memberikan hak kepada anak perempuan Zelafehad. dengan mengatakan bahwa anak perempuan berhak mendapatkan warisan. hal ini yang belum diketahui oleh masyarakat Sifalago, sebab laki-laki menurut kacamata mereka yaitu orang dapat berperang di zaman dahulu, sedangkan perempuan seorang yang lemah dan hanya dapat bekerja di dapur dan di ladang, sehingga tanah pun yang berhasil ditaklukkan dalam perang akan menjadi milik laki-laki tersebut, namun pada masa sekarang, tidak ada yang namanya perang, tidak ada yang namanya perebutan tanah, namun sekarang baik laki-laki dan perempuan sama-sama diperlukan. Ketika Allah menciptakan manusia, menurut gambar dan rupa Allah, sehingga tidak ada yang melebihi dari gambar Allah, semuanya sama, baik laki-laki maupun perempuan, sama di hadapan Allah.&nbsp;</p> Feniati Zebua Alokasih Gulo Copyright (c) 14 2 Pelayanan dan Kepemimpinan Pendeta Perempuan BNKP https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/66 <p>Pada masa sekarang ini kaum perempuan yang menjadi pemimpin sudah semakin meningkat di hampir semua aspek kehidupan manusia. Berdasarkan data yang ada di Kantor Sinode BNKP, pendeta perempuan di BNKP mengalami pertumbuhan dan perkembangan jumlah yang cukup signifikan, bahkan menduduki posisi sebagai pemimpin dalam beberapa lembaga di BNKP. Pada sisi lain masyarakat Nias menganut sistem Patriarkat dimana peran laki-laki selalu menjadi prioritas. Dalam sistem budaya patriarkat tentu pendeta perempuan mengalami berbagai tantangan baik dari dalam dirinya secara internal menyangkut kesiapan intelektual, emosional, dan mental maupun masalah di sekitar dirinya (eksternal), yaitu keberadaan majelis jemaat dan <em>Satua Niha Keriso</em> (Penatua) yang didominasi oleh kaum laki-laki. Di beberapa tempat masih ada jemaat yang menolak kepemimpinan perempuan karena masalah adat istiadat di masyarakat yang membatasi ruang gerak perempuan akibat sistem patriarkat yang dianut. Sehubungan dengan keadaan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana pendeta perempuan BNKP mengembangkan potensi kepemimpinannya dalam budaya patriarkat dengan melihat tantangan dan peluang yang ada baik dari budaya dan dari hakikat diri perempuan itu sendiri. Selain itu, akan dipaparkan juga tentang gaya kepemimpinan perempuan untuk menjawab tantangan BNKP saat ini. Dalam tulisan ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dan data-data yang di rekam di lapangan akan diolah sedemikian rupa untuk kemudian dideskripsikan.</p> Otoriteit Dachi Vinna Isya Merti Manao Copyright (c) 2021 Otoriteit Dachi, Vinna Isya Merti Manao https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2021-10-06 2021-10-06 14 2 29 38 10.36588/sundermann.v14i1.66 Bowo Wangowalu, Berkat atau Kutuk https://jurnal.sttsundermann.ac.id/index.php/sundermann/article/view/64 <p><strong>ABSTRAK<br>Böwö (mas kawin) dalam adat istiadat Nias sangatlah penting dalam melangsungkan pesta pernikahan. Böwö memiliki arti yang sangat dalam yaitu cinta kasih (masi-masi), namun dalam sejarah, böwö ini mengalami pergeseran makna. Tidak lagi sebagai masimasi, tetapi menjadi gogoila atau böli gana’a. Dari hasil penelitian terungkap bahwa bowo telah mendatangkan masalah dalam keluarga yaitu terjadinya kemiskinan terhadap keluarga yang baru dibentuk, keluarga tidak harmonis, ada banyak perempuan yang enggan dinikahi oleh para pemuda dari daerah lain akibat nilai nominal böwö yang tinggi, melangsungkan pernikahan diluar Nias dan ada juga yang menikah dengan cara yang tidak baik (moloi). Dalam artikel ini dikemukakan tentang praktek pelaksanaan pesta perkawinan dan terutama sistem bowo dan dampaknya dalam kehidupan masyarakat Nias. Oleh karenanya, demi kehidupan yang harmoni, sejahtera, maka dibutuhkan transformasi baik pemahaman, maupun sistem dan tata cara bowo di Nias. Untuk mewujudkannya, maka dibutuhkan keterlibatan banyak pihak, terutama keluarga, penatua adat, gereja dan pemerintah. Sehingga adat sebagai identitas tetap lestari, tetapi mendatangkan berkat dalam kehidupan masyarakat.Kata kuncinya adalah böwö wangowalu, adat dan masyarakat.</strong></p> Intan Tri Kristiani Gulo Tuhoni Telaumbanua Copyright (c) 14 2